Jejak Inovasi Guru #1 | Belajar, Berinovasi, dan Berbagi Praktik Baik
Bagaimana menghadirkan pembelajaran Pancasila yang menyenangkan sekaligus mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang beragam?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu titik awal saya mengembangkan praktik pembelajaran berdiferensiasi menggunakan media BATU Pancasila di kelas II sekolah dasar.
Bukan batu dalam arti benda keras yang biasa kita temukan di lingkungan sekitar. BATU dalam inovasi ini merupakan akronim dari Bagian Tumbuhan. Melalui media ini, murid belajar mengenali contoh penerapan nilai-nilai Pancasila dengan cara yang lebih konkret, aktif, dan menyenangkan.
Inilah salah satu jejak perjalanan saya dalam berinovasi sebagai guru.
Berawal dari Kebutuhan Belajar Murid
Setiap murid memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda. Ada murid yang sudah lancar membaca, ada yang masih memerlukan pendampingan, dan ada pula yang membutuhkan aktivitas belajar yang lebih menarik agar tetap terlibat dalam pembelajaran.
Pengalaman mengajar di kelas II SD Negeri Paliyan I Paliyan mendorong saya untuk mencari cara agar pembelajaran dapat mengakomodasi perbedaan tersebut.
Saat itu, saya melihat perlunya pembelajaran yang lebih memperhatikan kesiapan dan minat belajar murid. Sebagian murid kurang fokus, merasa bosan, atau mengganggu teman setelah menyelesaikan tugasnya.
Saya menyadari bahwa memberikan kegiatan dan bahan belajar yang sama kepada semua murid belum tentu dapat memenuhi kebutuhan mereka. Karena itu, saya memilih menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan metode Cooperative Learning dan media BATU Pancasila.
Tujuannya adalah mengakomodasi kesiapan membaca murid, memberikan pilihan belajar sesuai minat, serta menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Mengenal Media BATU Pancasila
BATU Pancasila adalah media pembelajaran yang memanfaatkan bagian-bagian tumbuhan untuk membantu murid memahami contoh nilai-nilai dalam setiap sila Pancasila.
Bagian tumbuhan tersebut memiliki peran masing-masing:
Bunga Pancasila: contoh nilai-nilai sila pertama.
Daun Pancasila: contoh nilai-nilai sila kedua.
Buah Pancasila: contoh nilai-nilai sila ketiga.
Batang Pancasila: contoh nilai-nilai sila keempat.
Akar Pancasila: contoh nilai-nilai sila kelima.
Pada bagian-bagian tersebut ditempelkan kartu kata atau contoh kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila.
Melalui media ini, murid tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Mereka juga terlibat dalam kegiatan membaca, berdiskusi, mengelompokkan contoh perilaku, dan bekerja sama dengan teman.
Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Praktik
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada Rabu, 27 September 2023, di kelas II SD Negeri Paliyan I Paliyan.
Sebelum pembelajaran dimulai, saya memetakan kesiapan belajar murid, terutama kemampuan membaca. Saya kemudian menyiapkan bacaan dengan tingkat panjang yang berbeda.
Murid yang kemampuan membacanya masih perlu ditingkatkan mendapatkan bacaan tiga kalimat. Murid dengan kemampuan membaca cukup mendapatkan bacaan lima kalimat, sedangkan murid yang kemampuan membacanya sudah baik mendapatkan bacaan tujuh kalimat.
Penyesuaian ini merupakan bentuk diferensiasi konten. Saat kegiatan berlangsung, saya juga memberikan pendampingan lebih intensif kepada murid yang membutuhkan bantuan dalam membaca dan memahami bacaan. Inilah penerapan diferensiasi proses.
Setelah membaca dan mengerjakan lembar kerja, murid berdiskusi tentang nilai-nilai Pancasila. Mereka kemudian dibagi menjadi lima kelompok untuk mengikuti permainan menggunakan media BATU Pancasila.
Setiap kelompok memperoleh contoh kegiatan sehari-hari, seperti beribadah sesuai agama, mengikuti kerja bakti, membantu orang yang mengalami kecelakaan, atau kegiatan lain yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Murid berdiskusi untuk menentukan sila yang sesuai dengan contoh kegiatan tersebut, kemudian menempelkan kartu pada bagian BATU Pancasila yang tepat. Setelah selesai, mereka berkeliling untuk membaca dan mencermati hasil pekerjaan kelompok lain serta memberikan apresiasi.
Pada akhir kegiatan, murid diberi kesempatan menceritakan pengalaman pribadinya dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Mereka dapat memilih untuk menyampaikan melalui gambar, cerita tertulis, atau secara lisan.
Pilihan tersebut menjadi bentuk diferensiasi produk. Murid memiliki kesempatan menunjukkan pemahamannya melalui cara yang sesuai dengan minatnya.
Apa yang Saya Pelajari dari Praktik Ini?
Setelah pembelajaran selesai, saya melakukan refleksi bersama murid dan memperoleh masukan dari kepala sekolah serta pengawas pembina yang mengamati kegiatan.
Dalam refleksi murid, mereka menyampaikan perasaan senang saat mengikuti pembelajaran dan keinginan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi saya sebagai guru, pengalaman ini menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti membuat pembelajaran yang sepenuhnya berbeda bagi setiap murid. Hal yang penting adalah mengenali kebutuhan mereka dan menyiapkan dukungan yang sesuai.
Penyesuaian panjang bacaan, misalnya, membantu murid mengerjakan tugas sesuai dengan kemampuannya. Murid yang memerlukan dukungan tidak harus menghadapi beban bacaan yang sama dengan murid yang sudah lebih lancar membaca.
Saya juga belajar bahwa media sederhana dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterlibatan murid apabila digunakan bersama strategi pembelajaran yang tepat.
Praktik ini tentu bukan akhir dari proses belajar saya. Saya justru semakin tertantang untuk terus mengembangkan strategi dan media pembelajaran yang berbeda agar kebutuhan belajar murid dapat terakomodasi dengan lebih baik.
Sebuah Jejak dalam Perjalanan Profesional
Praktik baik ini saya dokumentasikan melalui video berjudul Pembelajaran Berdiferensiasi dan Batu Pancasila di Kelas 2 SD_Apresiasi GTK 2023 (Guru Inovatif).
Karya tersebut menjadi bagian dari perjalanan saya mengikuti Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Inovatif dan Dedikatif Tingkat Provinsi Tahun 2023. Berdasarkan sertifikat yang saya terima, saya tercatat sebagai Nomine GTK Inovatif – Guru SD.
Pengalaman ini menjadi pengingat bagi saya bahwa kompetensi guru bukan sesuatu yang berhenti pada satu titik. Guru perlu terus belajar, mencoba hal baru, merefleksikan proses pembelajaran, dan berbagi pengalaman dengan rekan sejawat.
Saksikan Dokumentasi Praktik Baik
Video pembelajaran berdiferensiasi menggunakan BATU Pancasila dapat disaksikan melalui tautan berikut:
Penutup: Terus Belajar, Terus Bertumbuh
Bagi saya, inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Inovasi dapat tumbuh dari kepekaan guru dalam melihat kebutuhan murid, keberanian mencoba pendekatan baru, dan kesediaan memperbaiki pembelajaran berdasarkan refleksi.
Melalui BATU Pancasila, saya belajar bahwa pembelajaran yang berpihak pada murid dimulai dari upaya memahami keberagaman mereka.
Semoga pengalaman ini bermanfaat dan menginspirasi rekan-rekan guru untuk terus berinovasi, berbagi praktik baik, dan bersama-sama menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi setiap murid.
Sumiyati, M.Pd.
Guru | Kepala Sekolah |Praktisi Pendidikan | Penulis Blog Belajar di Sekolah Dasar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar