Senin, 19 Oktober 2026

Jurnal Online G7KAIH Palaga: Transformasi Digital untuk Penguatan Karakter Murid

 


Berawal dari Refleksi, Bergerak Menuju Inovasi

Pendidikan karakter merupakan proses panjang yang membutuhkan pembiasaan, keteladanan, pendampingan, dan evaluasi secara berkelanjutan. Karakter tidak terbentuk hanya melalui nasihat, tetapi tumbuh dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Di SDN Paliyan III Paliyan, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan karakter positif murid. Namun, dalam pelaksanaannya, saya menyadari bahwa pembiasaan perlu diikuti dengan sistem pemantauan yang praktis, terstruktur, dan berkelanjutan.

Sebelumnya, pemantauan kebiasaan murid dilakukan menggunakan jurnal berbasis kertas. Setiap minggu, guru perlu menyiapkan dan mencetak jurnal, murid mengisi jurnal tersebut, kemudian guru melakukan rekapitulasi secara manual. Selain membutuhkan waktu dan penggunaan kertas, sistem tersebut belum cukup menarik bagi murid untuk melakukan pencatatan kebiasaan secara konsisten.

Kondisi ini menjadi bahan refleksi bersama guru. Saya kemudian berpikir, bagaimana jika proses pencatatan dan pemantauan tersebut dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui teknologi digital?

Dari refleksi itulah lahir Jurnal Online G7KAIH Palaga, sebuah inovasi yang dikembangkan untuk mendukung implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat melalui pemanfaatan teknologi digital.

Bagi saya, inovasi tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang rumit. Inovasi dapat berawal dari keberanian melihat kembali praktik yang telah berjalan, menemukan bagian yang perlu diperbaiki, dan menghadirkan solusi sesuai kebutuhan nyata di sekolah.

Mengenal Jurnal Online G7KAIH Palaga

Jurnal Online G7KAIH Palaga merupakan jurnal harian digital yang digunakan untuk mendukung pencatatan dan pemantauan pelaksanaan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu:

  1. Bangun pagi.

  2. Beribadah.

  3. Berolahraga.

  4. Makan sehat dan bergizi.

  5. Gemar belajar.

  6. Bermasyarakat.

  7. Tidur cepat.

Jurnal ini dikembangkan dengan memanfaatkan Canva Education dan fasilitas Canva AI. Sistem dirancang berbasis web sehingga dapat diakses melalui telepon genggam maupun komputer tanpa mengharuskan pengguna memasang aplikasi khusus.

Beberapa fitur yang dikembangkan meliputi halaman login, halaman pengisian jurnal harian, menu refleksi, serta dashboard rekapitulasi yang membantu guru memantau data pelaksanaan kebiasaan murid. Data yang tercatat juga dapat dilihat melalui rekapitulasi digital untuk mendukung proses monitoring dan evaluasi.

Jurnal Online G7KAIH Palaga dapat diakses melalui tautan maupun barcode berikut:

Melalui inovasi ini, teknologi tidak sekadar digunakan sebagai alat pencatatan, tetapi menjadi sarana untuk mendukung pembiasaan karakter, memperkuat keterlibatan keluarga, dan mempermudah sekolah melakukan refleksi terhadap pelaksanaan program.

Proses Pengembangan: Dari Kebutuhan Menjadi Solusi

Pengembangan Jurnal Online G7KAIH Palaga dilakukan melalui beberapa tahapan.

1. Identifikasi kebutuhan dan refleksi

Langkah awal dilakukan dengan mengevaluasi penggunaan jurnal berbasis kertas bersama guru. Refleksi tersebut mengungkap beberapa tantangan, antara lain kebutuhan pencetakan rutin, rekapitulasi manual, penggunaan kertas, dan perlunya cara yang lebih menarik untuk mendorong konsistensi murid.

Jurnal manual yang sebelumnya digunakan dalam pencatatan G7KAIH

2. Perancangan inovasi

Berdasarkan kebutuhan tersebut, jurnal dirancang dengan prinsip mudah digunakan, dapat diakses melalui berbagai perangkat, tidak memerlukan instalasi aplikasi khusus, mendukung rekapitulasi digital, dan dapat dikembangkan tanpa biaya tambahan untuk pembuatan sistem.

3. Pengembangan menggunakan Canva AI

Saya memanfaatkan Canva Education dengan fasilitas AI untuk membantu mengembangkan tampilan dan fitur jurnal. Prosesnya meliputi penyusunan instruksi, pengembangan halaman, pemeriksaan hasil, pengujian akses, dan penyempurnaan sesuai kebutuhan sekolah.

Proses pembuatan jurnal dengan Canva AI

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendidik dapat mulai memanfaatkan teknologi AI untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata dalam pengelolaan program sekolah, meskipun tidak memiliki latar belakang pemrograman yang kompleks.

4. Sosialisasi dan kolaborasi

Sebelum implementasi, sekolah menyelenggarakan kegiatan launching dan sosialisasi yang melibatkan guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, serta orang tua/wali murid. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Pengawas SD dan Korwil Bidang Pendidikan Kapanewon Paliyan.

Sosialisasi tidak hanya memperkenalkan jurnal, tetapi juga menguatkan pemahaman tentang pentingnya pembiasaan G7KAIH dan peran keluarga dalam membangun karakter anak.

5. Uji coba dan penyempurnaan

Sebelum diterapkan secara menyeluruh, jurnal diuji coba selama lima hari, yaitu pada 9–13 Februari 2026. Uji coba dilakukan untuk melihat penggunaan sistem, partisipasi murid, serta kendala yang perlu diperbaiki.

Hasil uji coba menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan petunjuk penggunaan dan meningkatkan pendampingan kepada murid serta orang tua.

6. Implementasi

Setelah melalui tahapan persiapan dan penyempurnaan, Jurnal Online G7KAIH Palaga mulai diimplementasikan kepada seluruh murid SDN Paliyan III Paliyan pada 1 Maret 2026.

Murid mengisi jurnal, guru memantau melalui dashboard, dan orang tua mendampingi pelaksanaan kebiasaan baik di rumah. Dengan demikian, pemantauan pembiasaan karakter diupayakan menjadi proses yang lebih terintegrasi antara sekolah dan keluarga.

Uji Coba: Data sebagai Bahan Refleksi

Uji coba awal selama lima hari menghasilkan data sebagai berikut:

IndikatorHasil
Jumlah murid49
Murid yang login33
Rata-rata progres52,43%
Rata-rata hari tercatat                2,51 hari

Data tersebut menunjukkan bahwa 33 dari 49 murid telah melakukan login selama periode uji coba. Pada saat yang sama, rata-rata progres dan jumlah hari tercatat menunjukkan bahwa konsistensi pengisian masih perlu diperkuat.

Bagi saya, data awal ini bukan sekadar angka untuk menunjukkan penggunaan inovasi. Data tersebut menjadi dasar untuk mengenali kendala, memperbaiki sistem, memperjelas petunjuk, dan memperkuat pendampingan.

Inovasi yang baik bukanlah inovasi yang dianggap sempurna sejak awal, melainkan inovasi yang terus diperbaiki berdasarkan kebutuhan dan pengalaman nyata penggunanya.

Manfaat dan Nilai Tambah Inovasi

Penerapan Jurnal Online G7KAIH Palaga memberikan beberapa nilai tambah bagi pelaksanaan program sekolah.

Bagi murid, jurnal menjadi sarana untuk mencatat kebiasaan sehari-hari dan merefleksikan pembiasaan yang telah dilakukan.

Bagi guru, sistem digital mempermudah pemantauan dan rekapitulasi sehingga informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk memberikan motivasi serta penguatan kepada murid.

Bagi orang tua, jurnal menjadi sarana pendukung untuk terlibat dalam pendampingan kebiasaan anak di rumah. Keterlibatan keluarga penting karena pembentukan karakter tidak hanya berlangsung selama murid berada di sekolah.

Bagi sekolah, jurnal mendukung dokumentasi yang lebih terstruktur, pemanfaatan data untuk evaluasi, dan transformasi digital dalam pengelolaan program pendidikan karakter.

Selain itu, penggunaan jurnal digital mendukung pendekatan paperless sehingga kebutuhan pencetakan jurnal mingguan dapat dikurangi.

Manfaat tersebut perlu terus dipelihara melalui pendampingan, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. Kehadiran teknologi saja tidak menjamin perubahan karakter; teknologi perlu digunakan bersama keteladanan dan keterlibatan manusia.

Refleksi Kepemimpinan: Inovasi Harus Bertumbuh Bersama

Sebagai kepala sekolah, saya belajar bahwa mengembangkan inovasi bukan hanya tentang menghadirkan produk baru. Lebih dari itu, inovasi menuntut kemampuan mengenali kebutuhan, menggerakkan kolaborasi, mengambil keputusan, mendampingi pelaksanaan, serta menggunakan hasil evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan.

Jurnal Online G7KAIH Palaga menjadi salah satu wujud upaya saya dalam menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Prosesnya mengajarkan bahwa transformasi digital dapat dimulai dari permasalahan sederhana, selama disertai kemauan untuk belajar dan keberanian mencoba.

Saya juga menyadari bahwa keberlanjutan inovasi bergantung pada keterlibatan seluruh warga sekolah. Guru memerlukan kemudahan dalam melakukan pemantauan, murid memerlukan pendampingan untuk membangun konsistensi, dan orang tua perlu memperoleh ruang untuk terlibat dalam pembiasaan karakter anak.

Ke depan, evaluasi dan penyempurnaan akan terus menjadi bagian penting dari pengembangan jurnal ini. Harapannya, Jurnal Online G7KAIH Palaga tidak hanya membantu proses pencatatan, tetapi juga semakin bermakna dalam mendukung tumbuhnya kebiasaan positif pada diri murid.

Berbagi Praktik Baik, Menginspirasi Perubahan

Keikutsertaan inovasi Jurnal Online G7KAIH Palaga dalam lomba AGP menjadi kesempatan untuk mendokumentasikan proses, merefleksikan pengalaman, dan membagikan praktik baik kepada sesama pendidik.

Bagi saya, berbagi praktik baik bukan sekadar menunjukkan apa yang telah dibuat, tetapi juga membuka ruang belajar bersama. Pengalaman yang dibagikan dapat menjadi inspirasi, sementara masukan dari orang lain dapat memperkaya proses pengembangan inovasi.

Saya percaya bahwa perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan berawal dari sebuah pertanyaan sederhana: Apa yang bisa kita perbaiki agar proses pendidikan menjadi lebih baik?

Dari pertanyaan itu, kita belajar untuk bergerak. Dari refleksi, kita menemukan kebutuhan. Dari kolaborasi, kita memperluas manfaat. Dan melalui inovasi yang terus dikembangkan, kita berupaya menghadirkan pendidikan yang semakin bermakna bagi setiap murid.

Terus belajar, berani berinovasi, menguatkan kolaborasi, dan menjadikan setiap langkah sebagai bagian dari perjalanan menuju pendidikan bermutu untuk semua.

Sumiyati, M.Pd.

Minggu, 18 Oktober 2026

Belajar Pancasila dengan Batu: Inovasi Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Murid Kelas II SD

Jejak Inovasi Guru #1 | Belajar, Berinovasi, dan Berbagi Praktik Baik

Bagaimana menghadirkan pembelajaran Pancasila yang menyenangkan sekaligus mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang beragam?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu titik awal saya mengembangkan praktik pembelajaran berdiferensiasi menggunakan media BATU Pancasila di kelas II sekolah dasar.

Bukan batu dalam arti benda keras yang biasa kita temukan di lingkungan sekitar. BATU dalam inovasi ini merupakan akronim dari Bagian Tumbuhan. Melalui media ini, murid belajar mengenali contoh penerapan nilai-nilai Pancasila dengan cara yang lebih konkret, aktif, dan menyenangkan.

Inilah salah satu jejak perjalanan saya dalam berinovasi sebagai guru.

Berawal dari Kebutuhan Belajar Murid

Setiap murid memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda. Ada murid yang sudah lancar membaca, ada yang masih memerlukan pendampingan, dan ada pula yang membutuhkan aktivitas belajar yang lebih menarik agar tetap terlibat dalam pembelajaran.

Pengalaman mengajar di kelas II SD Negeri Paliyan I Paliyan mendorong saya untuk mencari cara agar pembelajaran dapat mengakomodasi perbedaan tersebut.

Saat itu, saya melihat perlunya pembelajaran yang lebih memperhatikan kesiapan dan minat belajar murid. Sebagian murid kurang fokus, merasa bosan, atau mengganggu teman setelah menyelesaikan tugasnya.

Saya menyadari bahwa memberikan kegiatan dan bahan belajar yang sama kepada semua murid belum tentu dapat memenuhi kebutuhan mereka. Karena itu, saya memilih menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan metode Cooperative Learning dan media BATU Pancasila.

Tujuannya adalah mengakomodasi kesiapan membaca murid, memberikan pilihan belajar sesuai minat, serta menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.

Mengenal Media BATU Pancasila

BATU Pancasila adalah media pembelajaran yang memanfaatkan bagian-bagian tumbuhan untuk membantu murid memahami contoh nilai-nilai dalam setiap sila Pancasila.

Bagian tumbuhan tersebut memiliki peran masing-masing:

  • Bunga Pancasila: contoh nilai-nilai sila pertama.

  • Daun Pancasila: contoh nilai-nilai sila kedua.

  • Buah Pancasila: contoh nilai-nilai sila ketiga.

  • Batang Pancasila: contoh nilai-nilai sila keempat.

  • Akar Pancasila: contoh nilai-nilai sila kelima.

Pada bagian-bagian tersebut ditempelkan kartu kata atau contoh kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila.

Melalui media ini, murid tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Mereka juga terlibat dalam kegiatan membaca, berdiskusi, mengelompokkan contoh perilaku, dan bekerja sama dengan teman.

Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Praktik

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada Rabu, 27 September 2023, di kelas II SD Negeri Paliyan I Paliyan.

Sebelum pembelajaran dimulai, saya memetakan kesiapan belajar murid, terutama kemampuan membaca. Saya kemudian menyiapkan bacaan dengan tingkat panjang yang berbeda.

Murid yang kemampuan membacanya masih perlu ditingkatkan mendapatkan bacaan tiga kalimat. Murid dengan kemampuan membaca cukup mendapatkan bacaan lima kalimat, sedangkan murid yang kemampuan membacanya sudah baik mendapatkan bacaan tujuh kalimat.

Penyesuaian ini merupakan bentuk diferensiasi konten. Saat kegiatan berlangsung, saya juga memberikan pendampingan lebih intensif kepada murid yang membutuhkan bantuan dalam membaca dan memahami bacaan. Inilah penerapan diferensiasi proses.

Setelah membaca dan mengerjakan lembar kerja, murid berdiskusi tentang nilai-nilai Pancasila. Mereka kemudian dibagi menjadi lima kelompok untuk mengikuti permainan menggunakan media BATU Pancasila.

Setiap kelompok memperoleh contoh kegiatan sehari-hari, seperti beribadah sesuai agama, mengikuti kerja bakti, membantu orang yang mengalami kecelakaan, atau kegiatan lain yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

Murid berdiskusi untuk menentukan sila yang sesuai dengan contoh kegiatan tersebut, kemudian menempelkan kartu pada bagian BATU Pancasila yang tepat. Setelah selesai, mereka berkeliling untuk membaca dan mencermati hasil pekerjaan kelompok lain serta memberikan apresiasi.

Pada akhir kegiatan, murid diberi kesempatan menceritakan pengalaman pribadinya dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Mereka dapat memilih untuk menyampaikan melalui gambar, cerita tertulis, atau secara lisan.

Pilihan tersebut menjadi bentuk diferensiasi produk. Murid memiliki kesempatan menunjukkan pemahamannya melalui cara yang sesuai dengan minatnya.

Apa yang Saya Pelajari dari Praktik Ini?

Setelah pembelajaran selesai, saya melakukan refleksi bersama murid dan memperoleh masukan dari kepala sekolah serta pengawas pembina yang mengamati kegiatan.

Dalam refleksi murid, mereka menyampaikan perasaan senang saat mengikuti pembelajaran dan keinginan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya sebagai guru, pengalaman ini menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti membuat pembelajaran yang sepenuhnya berbeda bagi setiap murid. Hal yang penting adalah mengenali kebutuhan mereka dan menyiapkan dukungan yang sesuai.

Penyesuaian panjang bacaan, misalnya, membantu murid mengerjakan tugas sesuai dengan kemampuannya. Murid yang memerlukan dukungan tidak harus menghadapi beban bacaan yang sama dengan murid yang sudah lebih lancar membaca.

Saya juga belajar bahwa media sederhana dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterlibatan murid apabila digunakan bersama strategi pembelajaran yang tepat.

Praktik ini tentu bukan akhir dari proses belajar saya. Saya justru semakin tertantang untuk terus mengembangkan strategi dan media pembelajaran yang berbeda agar kebutuhan belajar murid dapat terakomodasi dengan lebih baik.

Sebuah Jejak dalam Perjalanan Profesional

Praktik baik ini saya dokumentasikan melalui video berjudul Pembelajaran Berdiferensiasi dan Batu Pancasila di Kelas 2 SD_Apresiasi GTK 2023 (Guru Inovatif).

Karya tersebut menjadi bagian dari perjalanan saya mengikuti Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Inovatif dan Dedikatif Tingkat Provinsi Tahun 2023. Berdasarkan sertifikat yang saya terima, saya tercatat sebagai Nomine GTK Inovatif – Guru SD.

Pengalaman ini menjadi pengingat bagi saya bahwa kompetensi guru bukan sesuatu yang berhenti pada satu titik. Guru perlu terus belajar, mencoba hal baru, merefleksikan proses pembelajaran, dan berbagi pengalaman dengan rekan sejawat.

Saksikan Dokumentasi Praktik Baik

Video pembelajaran berdiferensiasi menggunakan BATU Pancasila dapat disaksikan melalui tautan berikut:


Dokumentasi pendukung: sertifikat Nomine GTK Inovatif – Guru SD pada kegiatan Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Inovatif dan Dedikatif Tingkat Provinsi Tahun 2023.



Penutup: Terus Belajar, Terus Bertumbuh

Bagi saya, inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Inovasi dapat tumbuh dari kepekaan guru dalam melihat kebutuhan murid, keberanian mencoba pendekatan baru, dan kesediaan memperbaiki pembelajaran berdasarkan refleksi.

Melalui BATU Pancasila, saya belajar bahwa pembelajaran yang berpihak pada murid dimulai dari upaya memahami keberagaman mereka.

Semoga pengalaman ini bermanfaat dan menginspirasi rekan-rekan guru untuk terus berinovasi, berbagi praktik baik, dan bersama-sama menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi setiap murid.


Sumiyati, M.Pd.
Guru | Kepala Sekolah |Praktisi Pendidikan | Penulis Blog Belajar di Sekolah Dasar


Sabtu, 17 Oktober 2026

Kembali Menulis, Kembali Berbagi: Merawat Praktik Baik dari Sekolah Dasar

 


Ada kalanya kita berhenti menulis, bukan karena kehabisan cerita, melainkan karena perjalanan membawa kita pada kesibukan, tanggung jawab, dan pengalaman baru.

Begitu pula dengan blog Belajar di Sekolah Dasar ini.

Sudah cukup lama blog ini tidak terisi tulisan baru. Sementara itu, perjalanan di dunia pendidikan terus berjalan. Ada banyak pengalaman yang dilalui, gagasan yang dicoba, tantangan yang dihadapi, dan pembelajaran yang diperoleh. Tidak semuanya sempat dituliskan dan dibagikan.

Kini, saya ingin kembali membuka ruang ini. Bukan karena semua hal telah sempurna, melainkan karena saya percaya bahwa pengalaman dalam dunia pendidikan akan semakin bermakna ketika direfleksikan dan dibagikan.

Dari guru yang terus belajar hingga menjadi kepala sekolah

Perjalanan saya di dunia pendidikan telah menghadirkan banyak kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Setelah bertahun-tahun menjalani peran sebagai guru, sejak Desember 2023 saya mendapat amanah untuk memimpin SDN Paliyan III Paliyan.

Perubahan peran ini menghadirkan pengalaman dan sudut pandang baru. Saya tidak hanya belajar tentang bagaimana pembelajaran berlangsung di kelas, tetapi juga tentang bagaimana guru didampingi untuk berkembang, budaya positif dibangun, kolaborasi dikuatkan, dan berbagai upaya perbaikan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Saya semakin memahami bahwa menjadi pendidik berarti bersedia untuk terus belajar. Tidak ada satu titik yang membuat kita berhenti berkembang. Selalu ada hal yang perlu dipelajari, praktik yang perlu diperbaiki, dan gagasan yang dapat dikembangkan.

Dalam perjalanan tersebut, saya belajar bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan justru tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan dengan kesungguhan, direfleksikan secara jujur, dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Mengapa saya kembali menulis?

Saya ingin menjadikan blog Belajar di Sekolah Dasar sebagai ruang untuk mendokumentasikan sekaligus membagikan perjalanan belajar dalam dunia pendidikan.

Melalui blog ini, saya ingin berbagi berbagai praktik baik yang pernah saya lakukan, mulai dari karya inovasi pembelajaran ketika menjadi guru, pengalaman mengembangkan media pembelajaran, hingga praktik kepemimpinan dan pengembangan sekolah ketika menjalankan amanah sebagai kepala sekolah.

Saya juga ingin berbagi cerita tentang prosesnya. Bukan hanya hal-hal yang berhasil, tetapi juga refleksi, tantangan, dan pelajaran yang diperoleh selama menjalankan berbagai upaya perbaikan.

Bagi saya, praktik baik bukan berarti praktik yang tanpa kekurangan. Praktik baik adalah ikhtiar yang dilakukan dengan tujuan yang jelas, dipelajari dari pengalaman nyata, dan terus disempurnakan agar memberikan manfaat bagi murid dan lingkungan pendidikan.

Saya tidak bermaksud menghadirkan semua pengalaman ini sebagai resep yang harus diterapkan dengan cara yang sama di setiap sekolah. Setiap sekolah memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri. Namun, saya berharap pengalaman yang dibagikan dapat menjadi inspirasi, bahan refleksi, atau pemantik lahirnya gagasan baru bagi guru dan kepala sekolah lainnya.

Mari belajar dan bertumbuh bersama

Saya menyadari bahwa perjalanan belajar saya masih panjang. Masih banyak hal yang perlu dipelajari, dicoba, dan diperbaiki. Karena itu, blog ini juga saya harapkan menjadi ruang untuk saling bertukar pengalaman dan memperluas wawasan.

Semoga tulisan-tulisan yang hadir di sini kelak tidak hanya menjadi catatan perjalanan pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi siapa pun yang sedang berjuang menghadirkan pendidikan yang lebih baik.

Hari ini, saya kembali menulis. Saya kembali belajar mendokumentasikan pengalaman, merefleksikan perjalanan, dan membagikan hal-hal yang mungkin berguna bagi orang lain.

Selamat datang kembali di Belajar di Sekolah Dasar.

Mari terus belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan. Sebab, pendidikan yang lebih baik tidak dibangun oleh satu orang saja, melainkan melalui ikhtiar bersama yang terus dirawat.

“Tidak harus menunggu sempurna untuk mulai berbagi. Dari pengalaman yang jujur, kita dapat saling belajar dan bertumbuh.”

Salam belajar, bergerak, dan bertumbuh.

Sumiyati, M.Pd.
Kepala SDN Paliyan III Paliyan

Senin, 20 Maret 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid

 Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Salam Guru Penggerak.

Salam dan bahagia, Bapak/Ibu Guru Hebat. Selamat berjumpa kembali dengan saya, Sumiyati dari SD Negeri Srepeng Semanu, Calon Guru Penggerak Angkatan 6 DIY. Pada kesempatan kali ini, Saya akan menyampaikan koneksi antar materi modul 3.3 tentang Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid dengan modul-modul terdahulu. Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Edy Susiadi Purnama selaku fasilitator, beserta Ibu Siti Sumiyati selaku pengajar praktik, yang tanpa lelah memberikan arahan dan bimbingan kepada kami dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6 ini.


    Kreativitas hanyalah menghubungkan berbagai hal. Ketika Anda bertanya kepada orang-orang kreatif bagaimana mereka melakukan sesuatu, mereka merasa sedikit bersalah karena mereka tidak benar-benar melakukannya, mereka hanya melihat sesuatu. Sesuatu itu tampaknya jelas bagi mereka setelah beberapa saat itu. Itu karena mereka dapat mengkoneksikan pengalaman yang mereka miliki dan mensintesis hal-hal baru. (Steve Jobs)


Bagaimana saya dapat mengaitkan intisari dari materi modul-modul guru penggerak yang telah saya pelajari untuk menjadi landadan teori bagi rencana program/kegiatan yang berdampak pada murid yang saya buat?


Untuk menjawab pertanyaan di atas, akan saya awali dengan menyampaikan bagaimana perasaan saya setelah mempelajari modul 3.3 tentang Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid ini. 

1. Apa pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh?

    Melalui modul 3.3 tentang Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid ini, saya belajar mengenai pentingnya membangun hubungan kemitraan antara guru dengan murid, serta pentingnya seorang guru melibatkan murid dalam program-program sekolah baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler. Melalui pengembangan kepemimpinan murid (student agency), yang meliputi suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership), murid ternyata bisa menjadi pemimpin pembelajaran bagi dirinya sendiri, guru berperan sebagai pengawas dan pendamping.

2. Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar?

    Saya merasa senang, bahagia, dan luar biasa, karena saya banyak belajar hal yang baru dan menarik, di mana dapat membuat pikiran saya terbuka untuk memberikan pelayanan terbaik kepada murid. Saya tersadarkan bahwa murid adalah mitra guru, yang harus dilibatkan dalam program-program sekolah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, bahkan sampai pada evaluasinya.

3. Apa saja yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan diri dalam proses belajar?

    Selama mempelajari modul ini, saya menyadari sebagai seorang pemimpin pembelajaran, ketika ingin menyusun program sekolah, harus melalui tahapan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, mentoring, hingga evaluasi.

4. Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan diri dalam proses belajar?

    Seorang guru harus memperbaiki proses penyusunan programnya, sehingga lebih mengedepankan suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid.

5. Apa keterkaitan pengalaman belajar terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi?

    Nilai dan peran guru penggerak sangat dibutuhkan dalam mengelola sebuah program yang berdampak pada murid. Adanya keinginan diri untuk berinovasi dan melakukan yang terbaik untuk murid mendorong saya untuk terus belajar mengembangkan kepemimpinan murid (student agency).


Berikutnya, apa intisari dari modul 3.3 ini?

1. Bagaimana kepemimpinan murid (student agency) dan kaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila?

    Kepemimpinan murid (student agency) adalah ketika murid mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.

    Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajarann mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan. Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat terwujud sebagai pengejawantahan profil pelajar Pancasila dalam dirinya.

2. Bagaimana suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid dalam konsep kepemimpinan murid?

    Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, atau bisa dikatakan saat murid memiliki student agency, maka mereka sebenanrnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah muriud kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan mereka.

   Suara (voice) adalah pandangan, perhatian, gagasan yang diekspresikan oleh murid melalui partisipasi aktif mereka di kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang berkontribusi pada proses pengambilan keputusan dan secara kolektif mempengaruhi hasilnya. Pilihan (choice) adalah peluang yang diberikan kepada murid untuk memilih kesempatan-kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran. Kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan investasi pribadi seseorang dalam proses belajar.

3. Bagaimana lingkungan yang mendukung tumbuhkembangnya kepemimpinan murid?

    Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah lingkungan di mana guru, sekolah, orang tua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal. Beberapa karakteristik lingkungan tersebut, yaitu:

a. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif.

b. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif, dan bijaksana.

c. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non akademiknya.

d. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

e. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan.

f. Lingkungan yang menempatkan murid sedemikiran rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri.

g. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.

4. Bagaimana melibatkan komunitas untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid?

        Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid berada dalam lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada komunitas keluarga, kelas dan antar kelas, sekolah, dan komunitas yang lebih luas lainnya. Semua komunitas tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses pembelajaran muid. Komunitas-komunitas terebut merupakan aset sosial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program sekolah.

        Komunitas memiliki peran penting dalam membantu mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid karena meyediakan kesempatan bagi murid untuk mewujudkan pilihan dan suara mereka. Komunitas-komunitas yang mendukung kepemimpinan murid akan memahami bahwa sesungguhnya murid-murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan.


Keterkaitan modul 3.3 dengan modul-modul sebelumnya

1. Keterkaitan modul 1.1 dengan 3.3

        KHD menyampaikan, peran seorang guru adalah menuntun segala kodrat yang ada pada murid, sehingga mereka bisa selamat dan bahagia sebaqgai individu masyarakat. Seorang pendidik, dalam mebgelola program yang berdampak pada murid haruslah menitikberatkan pada keterlibatan murid dan berorientasi pada pengembangan potensi (kodrat anak), mengembangkan keterampilan atau kepemimpinan dalam diri murid sehingga bermanfaat untuk mereka baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Dalam modul 3.3, penghambaan kepada murid lebih ditekankan kepada bagaimana melihat murid sebagai pribadi yang utuh, dan menuntun murid sesuai kodratnya dengan mengelola program-program yang berdampak positif pada murid.

2. Keterkaitan modul 1.2 dengan 3.3

        Melalui nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, diharapkan guru bisa menyusun dan mengelola program yang berdampak pada murid. Nilai-nilai tersebut harus dipedomani guru agar kegiatan yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat mengembangkan kepemimpinan murid. Selain itu, guru penggerak tidak hanya berperan sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas, namun memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam hal pengelolaan program yang berdampak positif pada murid di sekolah.

3. Keterkaitan modul 1.3 dengan 3.3

        Visi guru penggerak sangat berkaitan dengan bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid dan menjalankan rencana program sekolah dengan dukungan para pemangku kepentingan dalam mendukung ekosistem pembelajaran yang berpihak pada murid. Perencanaan yang dilakukan dapat menggunakan pendekayan Inquiry Apresiatif (IA) melalui model 5D Cycle, atau BAGJA. BAGJA sendiri merupakan sebuah kerangka yang dikembangkan untuk mengkoordinir praktik baik atau paradigma perubahan yang akan kita inisiasi dengan memetakan aset terlebih dahulu, salah satunya menyusun program yang melibatkan kepemimpinan murid.

4. Keterkaitan modul 1.4 dengan 3.3

        Pengelolaan program yang berdampak pada murid diharapkan dapat memberikan dampak positif dengan terwujudnya budaya positif di linegkungan sekolah. Budaya positif berupa lingkungan yang mendukung perkembangan siswa terutama kekuatan kodrat pada anak-anak. Dalam lingkungan belajar budaya positif, murid dibiasakan untuk dapat melakukan komunikasi dua arah bersama guru, serta menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk mendukung terlaksananya program sekolah yang berdampak pada murid.

5. Keterkaitan modul 2.1 dengan 3.3

        Merencanakan dan mengelola program yang berdampak positif pada murid tidak terlepas dari apa yang menjadi kebutuhan murid seperti kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid. Seorang guru penggerak dibekali dengan kemampuan mengelola pembelajaran yang berpihak pada murid berdasarkan kebutuhan murid yang beragam. Kebutuhan belajar mereka yang beragam menjadi dasar bagi guru dalam mengelola program yang berdampak positif pada murid. Keragaan murid ini merupakan aset atau modal untuk melakukan diferensiasi program yang berdampak pada murid dan sesuai dengan kebutuhan murid.

6. Keterkaitan modul 2.2 dengan 3.3

        Untuk merencanaan program yang berdampak pada murid, guru perlu mengintegrasikan pembelajaram sosial emosional di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan kesadaran penuh (mindfullness) murid. Agar dapat melaksanakan program sekolah, murid dapat merasa tenang, fokus, berempati, termotivasi, dan memiliki sikap tanggungjawab atas pilihannya. Teknik mindfullness menjadi strategi pengembangan lima KSE yang berdasarkan pada keberpihakan pada murid.

7. Keterkaitan modul 2.3 dengan 3.3

        Coaching sangat penting dilakukan sebagai langkah untuk menggali segala potensi dan melejitkan kinerja murid untuk menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang dihadapi ketika melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid. Untuk itu, sikap kreatif, inovatif, dan sikap kritis dari murid sangat diharapkan agar tercipta murid yang merdeka belajar. Coaching memberi kesempatan pada anak-anak untuk berkembang dan menggalu proses berpikir pada pribadi. Maka dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai strategi dalam mengembangkan sumber daya murid.

8. Keterkaitan modul 3.1 dengan 3.3

        Pemimpin pembelajaran adalah orang yang mau melakukan perubahan ke arah yang positif dan senang berkolaborasi. Agar keputusan yang diambil bersifat efektif dan efisien terkait rancangan program yang ingin dilakukan, tentunya keputusan tersebut haruslah memperhatikan 3 prinsip berpikir, 4 paradigma pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mendorong rasa percaya diri, keselamatan, dan kebahagiaan murid, serta seluruh pihak yang terkait dalam pengelolaan program yang berdampak positif pada murid.

9. Keterkaitan modul 3.2 dengan 3.3

        Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid harus didukung oleh pengelolaan aset yang ada di sekolah, yang berupa modal manusia, sosial, fisik, agama dan budaya, lingkungan/alam. politik, dan finansial. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya menjadi prioritas yang perlu diperhatikan oleh seluruh pemangku kepentingan yang ada. Dengan Pemberdayaan Komunitas Berbasis Aset, maka perencanaan pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana dengan baik.


Perspektif CGP tentang program yang berdampak positif pada murid dan bagaimana seharusnya program-program atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid.

1. Perspektif CGP tentang program yang berdampak positif pada murid

        Program yang berdampak positif pada murid merupakan program sekolah yang dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan murid. Sasaran program adalah murid dan untuk mengembangkan potensi murid seutuhnya. Program yang dibuat berdasarkan minat dan harapan dari murid dan untuk memfasilitasi perkembangan potensi yang ada dalam diri murid.

2. Bagaimana seharusnya program-program atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid?

        Penyusunan program sekolah tidak terlepas dari pemetaan aset-aset yang ada di sekolah, termasuk modal manusia dalam hal ini potensi murid. Untuk mempermudah dalam melakukan pemetaan, dilakukan suatu pendekatan yang berbasis pada aset. Selain pemetaan aset/kekuatan yang ada di sekolah, dalam pengembangan program ini juga diperlukan pemetaan kebutuhan murid dan semua warga sekolah. Untuk dapat melakukan pemetaan dengan baik, maka perencanaan program dilakukan melalui pendekatan IA model BAGJA. 


Demikianlah koneksi antar materi modul 3.3 tentang Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid ini saya sampaikan.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi guru-guru hebat dimanapun berada.

Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

Salam Guru Penggerak.

Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Rabu, 01 Maret 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 


Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

Salam Guru Penggerak. Semangat pagi guru-guru hebat.

Salam dan Bahagia.

Alhamdulillahirobbil alamin. Selamat berjumpa kembali. Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi Modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Susiadi Purnama selaku fasilitator, serta Ibu Siti Sumiyati selaku Pengajar Praktik, yang senantiasa mendampingi saya dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6.

Tujuan Pembelajaran Khusus

CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya.


Kesimpulan tentang Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dan Implementasinya di sekolah

Sekolah sebagai Ekosistem Pendidikan

        Sekolah sebagai sebuah ekosistem pendidikan, artinya bahwa sekolah merupakan sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik dan abiotik yang menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Faktor biotik adalah unsur makhluk hidup, dalam hal ini yaitu murid, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dinas terkait, orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah. Sedangkan faktor abiotik yang merupakan unsur tidak hidup, yaitu sarana dan prasarana sekolah, keuangan, serta lingkungan alam. Dengan pengelolaan yang tepat, faktor biotik dan abiotik yang merupakan sumber daya di sekolah, dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

        Pengelolaan sumber daya dalam ekosistem sekolah, bisa dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu Defisit-Based Aprroach (Pendekatan Berbasis Kekurangan) dan Asset-Based Approach (Pendekatan Berbasis Kekuatan/Aset). Defisit-Based Aprroach (Pendekatan Berbasis Kekurangan) yaitu sebuah pendekatan yang memusatkan perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Kekurangan yang dimiliki mendorong cara berpikir negatif sehingga fokusnya adalah bagaimana mengatasi kekurangan atau apa yang menghalangi, sehingga membuat kita menutup mata terhadap potensi yang dimiliki. Asset-Based Approach (Pendekatan Berbasis Kekuatan/Aset) yaitu sebuah pendekatan yang merupakan cara praktis menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Pusat perhatian pada pendekatan ini adalah pada apa yang berjalan dengan bauk, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

        Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang pendekatan berbasis kekurangan dan pendekatan berbasis aset:


        Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), merupakan pendekatan yang menekankan pada nilai, prinsip, dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. PKBA ini mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.

        Ada tujuh aset atau modal dalam lingkungan atau ekosistem sekolah, yaitu: modal manusia, modal sosial, modal agama dan budaya, modal politik, modal sosial, modal lingkingan/alam, serta modal financial atau keuangan. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya meru[akan seseorang yang mampu menjadikan sumber daya di sekitarnya menjadi kekuatan atau modal untuk melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid.


Hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelejarhan murid menjadi lebih berkualitas

        Sumber daya di sekolah merupakan faktor biotik dan abiotik dalam ekosistem sekolah itu sendiri. Faktor biotik meliputi murid, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, wali murid, dinas terkait, maupun masyarakat sekitar. Sedangkan faktor abiotik misalnya keuangan sekolah, sarana dan prasarana sekolah, kurikulum, dan lain-lain yang merupakab faktor tak hidup dalam ekosistem sekolah.

        Dari banyaknya sumber daya yang ada di sekolah tersebut, kita dapat memetakannya berdasarkan tujuh modal/aset untuk meudian kita manfaatkan dalam mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid. Berikut contoh pengelolaan sumber daya di sekolah melalui pemetaan tujuh modal utama dan pemanfaatannya:

1. Modal Manusia

    Guru yang memiliki nilai-nilai guru penggerak (berpihak pada murid, mandiri, inovatif, reflektif, kolaboratif) akan mampu melaksanakan pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid untuk mengenali potensi dirinya. Modal manusia berikutnya adalah murid. Dalam pembelajaran, murid buan hanya sebagai obyek, namun juga sebagai subyek. Melalui pemetaan kesiapana dan profil belajar murid yang tepat, guru dapat mengembangkan stategi maupun model pembelajaran yang bervariasi dan menarik bagi murid. Modal manusia yang lainnya adalah kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas, maupun masyarakat sekitar, yang bisa kita manfaatkan untuk berkolaborasi dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid.

2. Modal fisik

    Modal fisik meliputi sarana dan prasarana di sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran, misalnya gedung sekolah, laboratorium, alat peraga, dan lain-lain. Sarana dan prasarana yang memadai akan menunjang pembelajaran murid menjadi lebih efektif, bermakna, dan menyenangkan.

3. Modal Politik

    Modal politik yang dimiliki sekolah adalah kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan dan yang mempunyai akses untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dalam hal ini dinas terkait yang menaungi sekolah. 

4. Modal Finansial

       Modal finansial yang dimiliki sekolah antara lain BOS, BOSDA, dana infak, koperasi sekolah. Modal finansial tersebut jika dikelola dengan benar sesuai dengan peruntukannya, maka akan dapat membantu sekolah dalam mewujudkan program yang berdampak positif pada murid.

5. Modal Sosial

        Modal sosial meliputi kolaborasi guru dengan sesama guru, wali murid, masyarakat, maupun pihak lain yang dapat membantu proses pembelajaran yang berpihak pada murid. Kolaborasi ini bisa diwujudkan melalui MOu dengan pihak terkait, KKG, maupun Paguyuban Orang Tua (POT).

6. Modal Lingkungan/Alam

    Modal lingkungan/alam merupakan lingkungan sekitar sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid. Modal lingkungan/alam ini misalnya pasar, telaga, jalan raya, lapangan, dll.

7. Modal Agama dan Budaya

    Modal agama dan budaya yang dimiliki sekolah antara lain pembiasaan keagamaan di sekolah, peringatan hari besar agama, adanya kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan budaya, misalnya mulok batik, ekstrakurikuler kesenian, dll.


Hubungan materi modul 3.2 dengan modul sebelumnya

1.   Keterkaitan dengan modul 1.1 Filosofi KHD

            Tugas guru sesuai dengan filosofi KHD adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan adan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut guru harus mampu menggali dan menemukenali kemampuan muridnya (modal manusia), menyesuaikan dengan kodratnya, agar dapat nyaman dan bahagia dalam proses pembelajarannya.

2. Keterkaitan dengan modul 1.2 Nilai dan Peran guru Penggerak

            Nilai guru penggerak (berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif, dan inovatif) serta perannya (sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid) menjadi nilai positif yang digunakan untuk mengelola Sumber Daya agar tepat guna dan tepat sasaran, sehingga bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Keterkaitan dengan modul 1.3 Visi Guru Penggerak

            Guru harus mampu mengidentifikasi potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh ekosistem sekolah untuk merancang visi yang berpihak pada murid serta merancang prakarsa perubahan dengan Inquiry Apresiatif dengan tahapan BAGJA. 

4. Keterkaitan dengan modul 1.4 Budaya Positif

            Budaya positif di kelas dan sekolah perlu diciptakan agar dapat mendukung pembentukan karakter murid yang diharapkan.  Dalam penerapan budaya positif di sekolah, guru perlu memahami aset yang dimiliki sehingga penerapan budaya positif lebih optimal. Semua komponen diharapkan dapat terlibat khususnya guru sebagai manajer kontrol dan role model. Melalui kebiasaan baik yang membudaya, hal ini juga dapat dijadikan kekuatan bagi sekolah.

5. Keterkaitan dengan modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

            Pembelajaran berdiferensiasi dapat memfasilitasi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan murid, baik minat, kesiapan, maupun profil belajarnya. Pemetaan dan pengelolaan sumber daya dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

6. Keterkaitan dengan modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

            Kompetensi Sosial emosional yang dimiliki guru dan murid, menjadi pemndukung dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Dalam rangka memetakan dan mengelola sumber daya dalam ekosistem sekolah, KSE diperlukan dalam menanggulangi stres ketika mengelola sumber daya dan pengambilan keputusan.

7. Keterkaitan dengan modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

         Coaching diperlukan peningkatan kinerja untuk mencapai tujuan melalui pembekalan kemampuan memecahkan masalah dengan mengoptimalkan potensi diri. Coaching sangat diperlukan dalam menggali masalah dan potensi murid maupun guru untuk menemukan solusi dari masalah yang dihadapi oleh murid maupun guru terkait dengan pemanfaatan sumber daya.

8. Keterkaitan dengan modul 3.1 Pengambilan Keputusan berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

          Pengambilan keputusan yang tepat dilakukan melalui pertimbangan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, te[pat dalam mengelola sumber daya, agar tidak keluar dari norma dan tata peraturan yang ada, juga setiap pengambilan keputusan harus berpihak pada murid.


Pemikiran yang sudah berubah setelah mengikuti proses pembelajaran modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

    Sebelum mempelajari modul ini, dalam mengatasi masalah saya berfokus pada adanya kekurangan atau hal yang harus diperbaiki, sehingga menutup diri dari potensi dan kekuatan yang mendukung. Jadi, selama ini kami masih menggunakan Defisit-Based Approach atau Pendekatan Berbasis Kekurangan, sehingga solusi permasalahan maupun kegiatan yang dilaksanan menjadi kurang maksimal.

    Setelah mempelajari modul ini membuat cara berpikir saya berubah menggunakan pendekatan Asset-Based Approach atau Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan. Melalui cara berikir dengan pendekatan ini, kita akan fokus untuk menemukenali potensi yang saya maupun komunitas miliki, sehingga dapat memberdayakan potensi tersebut dengan tepat untuk mengatasi masalah maupun untuk meraih visi.


 Demikianlah Koneksi Antar Materi Modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Semoga materi ini bermanfaat bagi guru-guru hebat semuanya.

Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

Salam Guru Penggerak.

Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Kamis, 16 Februari 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Salam dan Bahagia.


Selamat berjumpa kembali, Bapak/Ibu Guru Hebat. Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini Saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi modul 3.2 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Susiadi Purnama selaku fasilitator, serta Ibu Siti Sumiyati selaku pengajar praktik yang senantiasa dengan sabar membimbing Saya dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6.

Tujuan Pembelajaran Khusus

Tujuan pembelajaran khusus dari Koneksi Antar Materi Modul 3.1 ini adalah:

  1. CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
  2. CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Pendahuluan

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Dari kutipan tersebut, dapat dikaitkan dengan materi pada modul 3.1 ini tentang pengambilan keputusan, yaitu permasalahan dilema etika, di mana kita sebagai seorang guru seringkali dihadapkan pada dilema pengambilan keputusan dalam kegiatan pembelajaran, misalnya apakah kita mengutamakan ketercapaian/target materi, atau nilai dari sebuah pendidikan karakter.

Nilai-nilai dalam suatu pengambilan keputusan yang saya anut yaitu bahwa pengambilan keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan serta berpihak pada murid. Hal tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk lingkungan sekolah, yaitu terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, serta kondusif untuk menciptakan keberpihakan pada murid.

Sebagai pemimpin pembelajaran, maka kita harus dapat menuntun murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga murid akan mendapatkan kebahagiaan melalui merdeka belajar. Pengambilan keputusan dalam pembelajaran harus mengutamakan kebutuhan belajar murid, yang dapat dilaksanakan melalui pembelajaran berdiferensiasi.

Kutipan dari Bob Talbert di atas merupakan sebuah dilema etika, seperti yang dipelajari pada modul 3.1 ini. Menurut kutipan di atas, kita dihadapkan pada dua pilihan yang sebenarnya sama-sama benar, yaitu mengajarkan berhitung, atau pendidikan karakter. Berdasarkan yang dipelajari pada modul 3.1 ini, kita dapat mengambil keputusan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan dilema etika, kita harus memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab, dan berpihak pada murid.


Koneksi Antar Materi Modul 3.1 dengan Modul 1 dan 2

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Apabila seorang pemimpin dihadapkan peda sebuah kasus dilema etika, untuk pengambilan keputusannya setidaknya harus berpedoman pada filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yang disampaikan, yaitu:

  • Ing Ngarso Sung Tuladha: menjadi teladan, memimpin, contoh kebajikan, patut ditiru atau baik untuk dicontoh oleh orang lain.
  • Ing Madya Manun Karsa : memberdayakan, menyemangati, membuat orang lain memiliki kekuatan, kemampuan, tenaga, akal, cara dan sebagainya demi memperbaiki kualitas diri mereka.
  • Tut Wuri Handayani: mempengaruhi, memelihara, dan memprovokasi kebajikan serta kualitas positif agar orang lain bertumbuh maju.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Salah satu nilai kebajikan yang menjadi barometer dari nilai-nilai kebajikan yang lain yaitu Tanggung Jawab. Sebuah keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan. Melalui sikap tanggungjawab dari dalam diri, sebuah keputusan yang kita ambil akan mencerminkan bagaimana prinsip diri kita berdasarkan ketiga prinsip pengambilan keputusan, sehingga akan mendorong terwujudnya wellbeing dalam ekosistem pendidikan.


Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam proses pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada sebelumnya.

Salah satu tujuan kegiatan coaching yaitu menggali lebih dalam lagi potensi yang dimiliki oleh seorang guru. Melalui proses coaching antara coach dengan coachee akan terjadi penyelesaian masalah dalam hal ini adalah pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Melalui kegiatan coaching, pengambilan keputusan akan lebih efektif karena keputusan yang diambil berasal dari potensi yang dimiliki seseorang. Dengan demikian, keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan, yang pada akhirnya akan mendorong terwujudnya well being dalam ekosistem sekolah.


Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnyaa masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan sauatu keputusan khususnya yang berkaitan dengan dilema etika. Guru yang memiliki kesadaran diri yang baik pasti menunjukkan integritas dan kejujuran dalam pengambilan keputusan. Selain itu, juga memiliki kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan. Dengan begitu guru akan memiliki kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang , budaya, dan konteks yang berbeda-beda. Kemampuan guru untuk mengambil pilihan-pilihan membangun berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Dengan memiliki semua kemampuan tersebut, pada akhirnya keputusan yang diambil atas kasus dilema etika dapat dipertanggungjawabkan.


Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika, nilai-nilai yang dianut sebagai seorang pendidik yaitu kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut, maka sebuah keputusan yang diambil diharapkan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan prinsip berpusat pada murid serta mendorong terwujudnya iklim pendidikan yang baik di sekolah.


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Dengan menjalankan prinsip among KHD dan pola pikir inquiry apresiatif diharapkan guru mampu menjalankan peran-perannya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran, artinya juga menjadi pemimpin yang menaruh perhatian penuh pada komponen pembelajaran sesuai kurikulum (baik intra kurikuler maupun ekstrakurikuler), proses belajar mengajar, refleksi dan penilaian otentik dan efektif, pengembangan guru, dan sebagainya. Guru berperan besar dalam membuat lingkungan yang aman, nyaman, menyenangkan, akan tetapi juga menantang murid untuk belajar. Guru diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada kepentingan tumbuh kembangnya murid agar mampu berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.


Apakah tantangan-tantangan di lingkungan anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan anda?

Tantangan-tantangan dalam menjalankan pengambilan keputusan di antaranya adalah adanya pemikiran dari setiap individu atau kelompok yang bertentangan. Dalam lingkungan sekolah, tentu saja selain pihak yang pro, juga ada pihak yang kontra dengan keputusan yang diambil atau kebijakan yang sedang dijalankan. Kadang, kita harus memilih antara beradaptasi dengan lingkungan yang menikmati zona nyamannya, atau teguh pada prinsip kita untuk terus meningkatkan kualitas diri.


Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutudskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbed-beda?

Keputusan yang kita ambil tentu saja berpengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid, misalnya dalam pemilihan strategi maupun model pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid. Kita dapat membuat keputusan mengenai pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda dengan cara kita kenali, kemudian kita petakan terlebih dahulu mengenai kesiapan, minat, dan profil belajar murid.  Setelah itu, dapat kita susun rencana untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi dengan melakukan diferensiasi konten, proses, maupun produk.


Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran seharusnya dapat mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Pengambilan keputusan yang bijaksana memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab, dan berpihak pada murid untuk memastikan bahwa kehidupan atau masa depan murid adalah yang terbaik dan sesuai dengan harapannya.


Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Berdasarkan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya dan pembelajaran yang ada pada modul 3.1 ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan keputusan kita haruslah mendasar pada 3 unsur, yaitu nilai-nilai kebajikan universal, bertanggungjawab terhadap segala konsekuensi, serta berpihak pada murid. Pengambilan kepurusan sebagai seorang pemimpin setidaknya harus berpedoman pada filosofi KHD dengan Pratap Trilokanya, berlandaskan nilai dan oeran guru penggerak, berpedoman pada keberpihakan pada murid melalui pembelajaran berduferensiasi serta pengembangan kompetensi sosial emosional, serta keterampilan coaching yang baik dalam menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan.


Sejauh mana pemahaman anda tentang konsep-konsep yang telah anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut anda di luar dugaan?

Pemahaman saya terhadap materi tentang konsep-konsep yang telah dipelajari di modul ini:
  • Sebuah kasus pengambilan keputusan dikatakan sebagai dilema etika apabila ada dua hal yang sama-sama benar atau mengandung nilai kebajikan saling bertentangan (benar lawan benar), sedangkan dikatakan bujukan moral apabila ada hal yang salah melawan hal yang benar (benar lawan salah).
  • 3 Prinsip pengambilan keputusan: 1) End Based-Thinking (pengambilan keputusan bebrbasis hasil akhir), 2) Rule Based-Thinking (pengambilan keputusan berbasis peraturan), dan 3) Care Based-Thinking (pengambilan keputusan berbasis rasa peduli).
  • 4 Paradigma pengambilan keputusan: 1) Individual vs community (individu lawan kelompok), 2) Justice vs mercy (rasa keadilan lawan rasa kasihan), 3) Truth vs loyalty (kebenaran lawan kesetiaan), 4) Short term vs long term (jangka pendek lawan jangka panjang).
  • 9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan: 1) mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, 2) menentukan siapa yang terliobat, 3) mengumpulkan fakta, 4) melakukan pengujian benar-salah, 5) pengujian benar-benar, 6) melakukan prinsip resolusi, 7) investigsi opsi trilema, 8) buat keputusan, 9) lihat dan refleksikan kembali.
  • Hal-hal yang tidak terduga: 1) apabila dilakukan pengujian benar-salah pada sebuah kasus dan gagal pada uji legal, maka langkah pengambilan keputusan tidak perlu dilanjutkan karena sudah ada pelanggaran hukum, yang artinya kasus tersebut bukan dilema etika melainkan bujukan moral yang merupakan benar lawan salah; 2) ternyata tidak selamanya care based-thinking itu baik untuk diterapkan.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang anda pelajari di modul ini?

Saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema. Saat itu dilema etika yang saya alami berdasarkan paradigma individu lawan kelompok. Saat itu saya hanya mengandalkan keputusan berbasis hasil akhir yang sekiranya tidak merugikan kedua pihak. Setelah saya mempelajari modul ini, ternyata sebuah kasus dilema etika perlu diselesaikan dengan 9 langkah oengambilan dan pengujian keputusan, berdasarkan 3 prinsip dan 4 paradigma.


Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat anda, perubahan apa yang terjadi pada cara anda mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin harus berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan, tanggung jawab, serta berpihak pada murid. Pengambilan keputusan dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, berdasarkan 3 prinsip dan 4 paradigma.


Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi anda sebagai seorang individu dan anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting mempelajari modul ini sebagai individu maupun pemimpin, di mana untuk mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan harus melalui beberapa langkah dan pertimbangan, sehingga tidak ada pihak yag dirugikan dari keputusan yang diambil. Dengan mempelajari modul ini, diharapkan pada kasus selanjutnya, keputusan yang diambil adalah langkah paling bijaksana dan terbaik.


Demikianlah koneksi antar materi modul 3.1 tentang Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi pada modul-modul sebelumnya. Semoga KAM ini bermanfaat bagi guru-guru hebat, untuk senantiasa memberikann pelayanan yang terbaik dan berpihak pada murid.

Salam Guru Penggerak.
Guru Bergerak, Indonesia Maju.
Salam.

Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.



    Kamis, 15 Desember 2022

    Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

     

    Assalamulaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Salam dan Bahagia.

     Selamat berjumpa Kembali, Bapak Ibu Guru Hebat. Pada kesempatan ini, saya Sumiyati CGP Angkatan 6 dari DIY akan menyampaikan Koneksi Antar Materi Modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Pengajar Praktik, Ibu Siti Sumiyati, beserta Bapak Fasilitator Bapak Edy Susiadi Purnama yang telah mendampingi serta membimbing selama Program Guru Penggerak ini.

     

    Refleksi Modul 3.2 Coaching untuk Supervisi Akademik

    Coaching merupakan sebuah proses kolaborqasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, di mana coach nmemfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

    Paradigma Berpikir Coaching

    1.       1. Fokus pada coachee yang akan dikembangkan

    2.       2. Bersikap terbuka dan ingin tahu

    3.       3. Memiliki kesadarqan diri yang kuat

    4.       4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

    Prinsip Coaching

    1.       Kemitraan

    Dalam coaching, posisi coach terhadap coacheenya adalah mitra. Hal itu berarti setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.

    2.       Proses Kreatif

    Proses kreatif ini dilakukan melalui percakapan dua arah, memicu prose3s berpikir coachee, memetakan dan menggali situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru.

    3.       Memaksimalkan Potensi

    Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan.


    Coaching dalam Konteks Pendidikan

    Filosofi KHD

    Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.

    Sistem Among

    Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid.

    Kompetensi Inti Coaching

    1.       Kehadiran Penuh

    Kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching.

    2.       Mendengarkan Aktif

    Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara. Fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara.

    3.       Mengajukan Pertanyaan Berbobot

    Pertanyaan yang diajukan dapat menggugah orang untuk berpikir, menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal baru, mengungkapkan emosi.

    Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggungjawab)

    1.       Tujuan

    Coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini.

    2.       Identifikasi

    Proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee.

    3.       Rencana Aksi

    Coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

    4.       Tanggungjawab

    Komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya


    Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

    Supervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada murid. Beberapa prinsip supervise akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi: kemitraan, konstruktif, terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan, dan komprehensif. Siklus dalam supervise klinis pada umumnya meliputi tiga tahap, yakni: Pra Observasi, Observasi dan Pasca Observasi.

     

    Koneksi Antar Materi

    Keterkaitan dengan Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

    Dalam pembelajran berdiferensiasi diadakan pemetaan dengan 3 cara: minat murid, kebutuhan belajar murid, dan profil belajar murid. Pemetaan ini digunakan seorang coach sebagai data dalam proses coaching, sehingga coachee dalam hal ini murid mampu mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya untuk menemukan solusi terbaik.

    Keterkaitan dengan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

    Hal-hal yang harus dipahami dalam Kompetensi Sosial dan Emosional yaitu: Kesadaran Diri, Kesadaran Sosial, Pengelolaan Diri, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab. KSE digunakan oleh seorang guru dalam melakukan coaching terhadap coachee, agar terjadi pengendalian diri dan emosi untuk coach dan coachee serta menimbulkan rasa empati dan rasa sosialisasi serta dapat mengambil keputusan yang tepat dan bertanggungjawab.

    Peran sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya

    Di dalam kompetensi coaching dengan alur TIRTA, mewajibkan kita sebagai coach untuk dapat melakukan kehadiran penuh, salah satunya dengan kegiatan STOP dan mindfull listening yang telah dipelajari pada modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional. Salah satu prinsip coaching adalah memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat. Percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang diberdayakan atau coachee. Karena potensi coachee beragam, maka kompetensi sosial emosional diperlukan untuk memaksimalkan potensinya.

    Demikianlah koneksi antar materi modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik.

    Sampai bertemu pada materi selanjutnya.

    Salam Guru Penggerak.

    Guru Bergerak, Indonesia Maju.

    Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.