Halaman

Tampilkan postingan dengan label guru penggerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru penggerak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Maret 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 


Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

Salam Guru Penggerak. Semangat pagi guru-guru hebat.

Salam dan Bahagia.

Alhamdulillahirobbil alamin. Selamat berjumpa kembali. Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi Modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Susiadi Purnama selaku fasilitator, serta Ibu Siti Sumiyati selaku Pengajar Praktik, yang senantiasa mendampingi saya dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6.

Tujuan Pembelajaran Khusus

CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya.


Kesimpulan tentang Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dan Implementasinya di sekolah

Sekolah sebagai Ekosistem Pendidikan

        Sekolah sebagai sebuah ekosistem pendidikan, artinya bahwa sekolah merupakan sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik dan abiotik yang menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Faktor biotik adalah unsur makhluk hidup, dalam hal ini yaitu murid, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dinas terkait, orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah. Sedangkan faktor abiotik yang merupakan unsur tidak hidup, yaitu sarana dan prasarana sekolah, keuangan, serta lingkungan alam. Dengan pengelolaan yang tepat, faktor biotik dan abiotik yang merupakan sumber daya di sekolah, dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

        Pengelolaan sumber daya dalam ekosistem sekolah, bisa dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu Defisit-Based Aprroach (Pendekatan Berbasis Kekurangan) dan Asset-Based Approach (Pendekatan Berbasis Kekuatan/Aset). Defisit-Based Aprroach (Pendekatan Berbasis Kekurangan) yaitu sebuah pendekatan yang memusatkan perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Kekurangan yang dimiliki mendorong cara berpikir negatif sehingga fokusnya adalah bagaimana mengatasi kekurangan atau apa yang menghalangi, sehingga membuat kita menutup mata terhadap potensi yang dimiliki. Asset-Based Approach (Pendekatan Berbasis Kekuatan/Aset) yaitu sebuah pendekatan yang merupakan cara praktis menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Pusat perhatian pada pendekatan ini adalah pada apa yang berjalan dengan bauk, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

        Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang pendekatan berbasis kekurangan dan pendekatan berbasis aset:


        Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), merupakan pendekatan yang menekankan pada nilai, prinsip, dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. PKBA ini mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.

        Ada tujuh aset atau modal dalam lingkungan atau ekosistem sekolah, yaitu: modal manusia, modal sosial, modal agama dan budaya, modal politik, modal sosial, modal lingkingan/alam, serta modal financial atau keuangan. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya meru[akan seseorang yang mampu menjadikan sumber daya di sekitarnya menjadi kekuatan atau modal untuk melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid.


Hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelejarhan murid menjadi lebih berkualitas

        Sumber daya di sekolah merupakan faktor biotik dan abiotik dalam ekosistem sekolah itu sendiri. Faktor biotik meliputi murid, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, wali murid, dinas terkait, maupun masyarakat sekitar. Sedangkan faktor abiotik misalnya keuangan sekolah, sarana dan prasarana sekolah, kurikulum, dan lain-lain yang merupakab faktor tak hidup dalam ekosistem sekolah.

        Dari banyaknya sumber daya yang ada di sekolah tersebut, kita dapat memetakannya berdasarkan tujuh modal/aset untuk meudian kita manfaatkan dalam mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid. Berikut contoh pengelolaan sumber daya di sekolah melalui pemetaan tujuh modal utama dan pemanfaatannya:

1. Modal Manusia

    Guru yang memiliki nilai-nilai guru penggerak (berpihak pada murid, mandiri, inovatif, reflektif, kolaboratif) akan mampu melaksanakan pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid untuk mengenali potensi dirinya. Modal manusia berikutnya adalah murid. Dalam pembelajaran, murid buan hanya sebagai obyek, namun juga sebagai subyek. Melalui pemetaan kesiapana dan profil belajar murid yang tepat, guru dapat mengembangkan stategi maupun model pembelajaran yang bervariasi dan menarik bagi murid. Modal manusia yang lainnya adalah kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas, maupun masyarakat sekitar, yang bisa kita manfaatkan untuk berkolaborasi dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid.

2. Modal fisik

    Modal fisik meliputi sarana dan prasarana di sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran, misalnya gedung sekolah, laboratorium, alat peraga, dan lain-lain. Sarana dan prasarana yang memadai akan menunjang pembelajaran murid menjadi lebih efektif, bermakna, dan menyenangkan.

3. Modal Politik

    Modal politik yang dimiliki sekolah adalah kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan dan yang mempunyai akses untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dalam hal ini dinas terkait yang menaungi sekolah. 

4. Modal Finansial

       Modal finansial yang dimiliki sekolah antara lain BOS, BOSDA, dana infak, koperasi sekolah. Modal finansial tersebut jika dikelola dengan benar sesuai dengan peruntukannya, maka akan dapat membantu sekolah dalam mewujudkan program yang berdampak positif pada murid.

5. Modal Sosial

        Modal sosial meliputi kolaborasi guru dengan sesama guru, wali murid, masyarakat, maupun pihak lain yang dapat membantu proses pembelajaran yang berpihak pada murid. Kolaborasi ini bisa diwujudkan melalui MOu dengan pihak terkait, KKG, maupun Paguyuban Orang Tua (POT).

6. Modal Lingkungan/Alam

    Modal lingkungan/alam merupakan lingkungan sekitar sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid. Modal lingkungan/alam ini misalnya pasar, telaga, jalan raya, lapangan, dll.

7. Modal Agama dan Budaya

    Modal agama dan budaya yang dimiliki sekolah antara lain pembiasaan keagamaan di sekolah, peringatan hari besar agama, adanya kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan budaya, misalnya mulok batik, ekstrakurikuler kesenian, dll.


Hubungan materi modul 3.2 dengan modul sebelumnya

1.   Keterkaitan dengan modul 1.1 Filosofi KHD

            Tugas guru sesuai dengan filosofi KHD adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan adan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut guru harus mampu menggali dan menemukenali kemampuan muridnya (modal manusia), menyesuaikan dengan kodratnya, agar dapat nyaman dan bahagia dalam proses pembelajarannya.

2. Keterkaitan dengan modul 1.2 Nilai dan Peran guru Penggerak

            Nilai guru penggerak (berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif, dan inovatif) serta perannya (sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid) menjadi nilai positif yang digunakan untuk mengelola Sumber Daya agar tepat guna dan tepat sasaran, sehingga bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Keterkaitan dengan modul 1.3 Visi Guru Penggerak

            Guru harus mampu mengidentifikasi potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh ekosistem sekolah untuk merancang visi yang berpihak pada murid serta merancang prakarsa perubahan dengan Inquiry Apresiatif dengan tahapan BAGJA. 

4. Keterkaitan dengan modul 1.4 Budaya Positif

            Budaya positif di kelas dan sekolah perlu diciptakan agar dapat mendukung pembentukan karakter murid yang diharapkan.  Dalam penerapan budaya positif di sekolah, guru perlu memahami aset yang dimiliki sehingga penerapan budaya positif lebih optimal. Semua komponen diharapkan dapat terlibat khususnya guru sebagai manajer kontrol dan role model. Melalui kebiasaan baik yang membudaya, hal ini juga dapat dijadikan kekuatan bagi sekolah.

5. Keterkaitan dengan modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

            Pembelajaran berdiferensiasi dapat memfasilitasi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan murid, baik minat, kesiapan, maupun profil belajarnya. Pemetaan dan pengelolaan sumber daya dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

6. Keterkaitan dengan modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

            Kompetensi Sosial emosional yang dimiliki guru dan murid, menjadi pemndukung dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Dalam rangka memetakan dan mengelola sumber daya dalam ekosistem sekolah, KSE diperlukan dalam menanggulangi stres ketika mengelola sumber daya dan pengambilan keputusan.

7. Keterkaitan dengan modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

         Coaching diperlukan peningkatan kinerja untuk mencapai tujuan melalui pembekalan kemampuan memecahkan masalah dengan mengoptimalkan potensi diri. Coaching sangat diperlukan dalam menggali masalah dan potensi murid maupun guru untuk menemukan solusi dari masalah yang dihadapi oleh murid maupun guru terkait dengan pemanfaatan sumber daya.

8. Keterkaitan dengan modul 3.1 Pengambilan Keputusan berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

          Pengambilan keputusan yang tepat dilakukan melalui pertimbangan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, te[pat dalam mengelola sumber daya, agar tidak keluar dari norma dan tata peraturan yang ada, juga setiap pengambilan keputusan harus berpihak pada murid.


Pemikiran yang sudah berubah setelah mengikuti proses pembelajaran modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

    Sebelum mempelajari modul ini, dalam mengatasi masalah saya berfokus pada adanya kekurangan atau hal yang harus diperbaiki, sehingga menutup diri dari potensi dan kekuatan yang mendukung. Jadi, selama ini kami masih menggunakan Defisit-Based Approach atau Pendekatan Berbasis Kekurangan, sehingga solusi permasalahan maupun kegiatan yang dilaksanan menjadi kurang maksimal.

    Setelah mempelajari modul ini membuat cara berpikir saya berubah menggunakan pendekatan Asset-Based Approach atau Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan. Melalui cara berikir dengan pendekatan ini, kita akan fokus untuk menemukenali potensi yang saya maupun komunitas miliki, sehingga dapat memberdayakan potensi tersebut dengan tepat untuk mengatasi masalah maupun untuk meraih visi.


 Demikianlah Koneksi Antar Materi Modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Semoga materi ini bermanfaat bagi guru-guru hebat semuanya.

Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

Salam Guru Penggerak.

Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Kamis, 16 Februari 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Salam dan Bahagia.


Selamat berjumpa kembali, Bapak/Ibu Guru Hebat. Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini Saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi modul 3.2 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Susiadi Purnama selaku fasilitator, serta Ibu Siti Sumiyati selaku pengajar praktik yang senantiasa dengan sabar membimbing Saya dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6.

Tujuan Pembelajaran Khusus

Tujuan pembelajaran khusus dari Koneksi Antar Materi Modul 3.1 ini adalah:

  1. CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
  2. CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Pendahuluan

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Dari kutipan tersebut, dapat dikaitkan dengan materi pada modul 3.1 ini tentang pengambilan keputusan, yaitu permasalahan dilema etika, di mana kita sebagai seorang guru seringkali dihadapkan pada dilema pengambilan keputusan dalam kegiatan pembelajaran, misalnya apakah kita mengutamakan ketercapaian/target materi, atau nilai dari sebuah pendidikan karakter.

Nilai-nilai dalam suatu pengambilan keputusan yang saya anut yaitu bahwa pengambilan keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan serta berpihak pada murid. Hal tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk lingkungan sekolah, yaitu terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, serta kondusif untuk menciptakan keberpihakan pada murid.

Sebagai pemimpin pembelajaran, maka kita harus dapat menuntun murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga murid akan mendapatkan kebahagiaan melalui merdeka belajar. Pengambilan keputusan dalam pembelajaran harus mengutamakan kebutuhan belajar murid, yang dapat dilaksanakan melalui pembelajaran berdiferensiasi.

Kutipan dari Bob Talbert di atas merupakan sebuah dilema etika, seperti yang dipelajari pada modul 3.1 ini. Menurut kutipan di atas, kita dihadapkan pada dua pilihan yang sebenarnya sama-sama benar, yaitu mengajarkan berhitung, atau pendidikan karakter. Berdasarkan yang dipelajari pada modul 3.1 ini, kita dapat mengambil keputusan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan dilema etika, kita harus memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab, dan berpihak pada murid.


Koneksi Antar Materi Modul 3.1 dengan Modul 1 dan 2

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Apabila seorang pemimpin dihadapkan peda sebuah kasus dilema etika, untuk pengambilan keputusannya setidaknya harus berpedoman pada filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yang disampaikan, yaitu:

  • Ing Ngarso Sung Tuladha: menjadi teladan, memimpin, contoh kebajikan, patut ditiru atau baik untuk dicontoh oleh orang lain.
  • Ing Madya Manun Karsa : memberdayakan, menyemangati, membuat orang lain memiliki kekuatan, kemampuan, tenaga, akal, cara dan sebagainya demi memperbaiki kualitas diri mereka.
  • Tut Wuri Handayani: mempengaruhi, memelihara, dan memprovokasi kebajikan serta kualitas positif agar orang lain bertumbuh maju.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Salah satu nilai kebajikan yang menjadi barometer dari nilai-nilai kebajikan yang lain yaitu Tanggung Jawab. Sebuah keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan. Melalui sikap tanggungjawab dari dalam diri, sebuah keputusan yang kita ambil akan mencerminkan bagaimana prinsip diri kita berdasarkan ketiga prinsip pengambilan keputusan, sehingga akan mendorong terwujudnya wellbeing dalam ekosistem pendidikan.


Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam proses pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada sebelumnya.

Salah satu tujuan kegiatan coaching yaitu menggali lebih dalam lagi potensi yang dimiliki oleh seorang guru. Melalui proses coaching antara coach dengan coachee akan terjadi penyelesaian masalah dalam hal ini adalah pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Melalui kegiatan coaching, pengambilan keputusan akan lebih efektif karena keputusan yang diambil berasal dari potensi yang dimiliki seseorang. Dengan demikian, keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan, yang pada akhirnya akan mendorong terwujudnya well being dalam ekosistem sekolah.


Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnyaa masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan sauatu keputusan khususnya yang berkaitan dengan dilema etika. Guru yang memiliki kesadaran diri yang baik pasti menunjukkan integritas dan kejujuran dalam pengambilan keputusan. Selain itu, juga memiliki kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan. Dengan begitu guru akan memiliki kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang , budaya, dan konteks yang berbeda-beda. Kemampuan guru untuk mengambil pilihan-pilihan membangun berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Dengan memiliki semua kemampuan tersebut, pada akhirnya keputusan yang diambil atas kasus dilema etika dapat dipertanggungjawabkan.


Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika, nilai-nilai yang dianut sebagai seorang pendidik yaitu kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut, maka sebuah keputusan yang diambil diharapkan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan prinsip berpusat pada murid serta mendorong terwujudnya iklim pendidikan yang baik di sekolah.


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Dengan menjalankan prinsip among KHD dan pola pikir inquiry apresiatif diharapkan guru mampu menjalankan peran-perannya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran, artinya juga menjadi pemimpin yang menaruh perhatian penuh pada komponen pembelajaran sesuai kurikulum (baik intra kurikuler maupun ekstrakurikuler), proses belajar mengajar, refleksi dan penilaian otentik dan efektif, pengembangan guru, dan sebagainya. Guru berperan besar dalam membuat lingkungan yang aman, nyaman, menyenangkan, akan tetapi juga menantang murid untuk belajar. Guru diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada kepentingan tumbuh kembangnya murid agar mampu berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.


Apakah tantangan-tantangan di lingkungan anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan anda?

Tantangan-tantangan dalam menjalankan pengambilan keputusan di antaranya adalah adanya pemikiran dari setiap individu atau kelompok yang bertentangan. Dalam lingkungan sekolah, tentu saja selain pihak yang pro, juga ada pihak yang kontra dengan keputusan yang diambil atau kebijakan yang sedang dijalankan. Kadang, kita harus memilih antara beradaptasi dengan lingkungan yang menikmati zona nyamannya, atau teguh pada prinsip kita untuk terus meningkatkan kualitas diri.


Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutudskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbed-beda?

Keputusan yang kita ambil tentu saja berpengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid, misalnya dalam pemilihan strategi maupun model pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid. Kita dapat membuat keputusan mengenai pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda dengan cara kita kenali, kemudian kita petakan terlebih dahulu mengenai kesiapan, minat, dan profil belajar murid.  Setelah itu, dapat kita susun rencana untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi dengan melakukan diferensiasi konten, proses, maupun produk.


Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran seharusnya dapat mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Pengambilan keputusan yang bijaksana memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab, dan berpihak pada murid untuk memastikan bahwa kehidupan atau masa depan murid adalah yang terbaik dan sesuai dengan harapannya.


Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Berdasarkan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya dan pembelajaran yang ada pada modul 3.1 ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan keputusan kita haruslah mendasar pada 3 unsur, yaitu nilai-nilai kebajikan universal, bertanggungjawab terhadap segala konsekuensi, serta berpihak pada murid. Pengambilan kepurusan sebagai seorang pemimpin setidaknya harus berpedoman pada filosofi KHD dengan Pratap Trilokanya, berlandaskan nilai dan oeran guru penggerak, berpedoman pada keberpihakan pada murid melalui pembelajaran berduferensiasi serta pengembangan kompetensi sosial emosional, serta keterampilan coaching yang baik dalam menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan.


Sejauh mana pemahaman anda tentang konsep-konsep yang telah anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut anda di luar dugaan?

Pemahaman saya terhadap materi tentang konsep-konsep yang telah dipelajari di modul ini:
  • Sebuah kasus pengambilan keputusan dikatakan sebagai dilema etika apabila ada dua hal yang sama-sama benar atau mengandung nilai kebajikan saling bertentangan (benar lawan benar), sedangkan dikatakan bujukan moral apabila ada hal yang salah melawan hal yang benar (benar lawan salah).
  • 3 Prinsip pengambilan keputusan: 1) End Based-Thinking (pengambilan keputusan bebrbasis hasil akhir), 2) Rule Based-Thinking (pengambilan keputusan berbasis peraturan), dan 3) Care Based-Thinking (pengambilan keputusan berbasis rasa peduli).
  • 4 Paradigma pengambilan keputusan: 1) Individual vs community (individu lawan kelompok), 2) Justice vs mercy (rasa keadilan lawan rasa kasihan), 3) Truth vs loyalty (kebenaran lawan kesetiaan), 4) Short term vs long term (jangka pendek lawan jangka panjang).
  • 9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan: 1) mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, 2) menentukan siapa yang terliobat, 3) mengumpulkan fakta, 4) melakukan pengujian benar-salah, 5) pengujian benar-benar, 6) melakukan prinsip resolusi, 7) investigsi opsi trilema, 8) buat keputusan, 9) lihat dan refleksikan kembali.
  • Hal-hal yang tidak terduga: 1) apabila dilakukan pengujian benar-salah pada sebuah kasus dan gagal pada uji legal, maka langkah pengambilan keputusan tidak perlu dilanjutkan karena sudah ada pelanggaran hukum, yang artinya kasus tersebut bukan dilema etika melainkan bujukan moral yang merupakan benar lawan salah; 2) ternyata tidak selamanya care based-thinking itu baik untuk diterapkan.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang anda pelajari di modul ini?

Saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema. Saat itu dilema etika yang saya alami berdasarkan paradigma individu lawan kelompok. Saat itu saya hanya mengandalkan keputusan berbasis hasil akhir yang sekiranya tidak merugikan kedua pihak. Setelah saya mempelajari modul ini, ternyata sebuah kasus dilema etika perlu diselesaikan dengan 9 langkah oengambilan dan pengujian keputusan, berdasarkan 3 prinsip dan 4 paradigma.


Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat anda, perubahan apa yang terjadi pada cara anda mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin harus berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan, tanggung jawab, serta berpihak pada murid. Pengambilan keputusan dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, berdasarkan 3 prinsip dan 4 paradigma.


Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi anda sebagai seorang individu dan anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting mempelajari modul ini sebagai individu maupun pemimpin, di mana untuk mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan harus melalui beberapa langkah dan pertimbangan, sehingga tidak ada pihak yag dirugikan dari keputusan yang diambil. Dengan mempelajari modul ini, diharapkan pada kasus selanjutnya, keputusan yang diambil adalah langkah paling bijaksana dan terbaik.


Demikianlah koneksi antar materi modul 3.1 tentang Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi pada modul-modul sebelumnya. Semoga KAM ini bermanfaat bagi guru-guru hebat, untuk senantiasa memberikann pelayanan yang terbaik dan berpihak pada murid.

Salam Guru Penggerak.
Guru Bergerak, Indonesia Maju.
Salam.

Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.



    Senin, 28 November 2022

    Koneksi Antar Materi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional


     Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Semangat Pagi.

    Salam dan Bahagia.

    Salam Guru Penggerak.

    Pada kesempatan kali ini, Saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih Fasilitator Bapak Edy Susiadi Purnama dan Pengajar Praktik Ibu Siti Sumiyati yang telah membimbing Saya dengan sabar selama mengikuti Program Guru Penggerak ini.


    Refleksi Diri

    Bapak dan Ibu, Guru Hebat seluruh Indonesia, sebagai pendidik tentunya kita pernah mengalami perasaan emosi dalam diri kita seperti marah, kecewa, khawatir, sedih, atau bahkan stres karena tumpukan tugas yang begitu banyak. Nah, Bapak Ibu Guru Hebat, bagaimana cara kita mengontrol diri? Maka dalam modul 2.2 ini kita akan mempelajari Pembelajaran Sosial Emosional dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya.


    Apa kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional?


        Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap oositif mengenai aspek sosial dan emosional. Tujuan pembelajaran sosial dan emosional (PSE) adalah untuk memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

        Pencapaian Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) ditandai dengan adanya: 1) Peningkatan 5 kompetensi sosial-emosional, 2) Lingkungan belajar yang suportif, 3) Peningkatan sikap pada diri sendiri, respek dan toleran terhadap orang lain dan lingkungan sekolah. Meningkatnya tiga hal tersebut dapat mnegurangi perilaku negatif dan tingkat stres, serta dapat meningkatkan perilaku positif dan performa akademik siswa.

        Sebelum membahas lebih lanjut tentang lima KSE, kita akan terlebih dahulu membahas tentang well being. Well Being adalah sebuah kondisi di mana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik. Memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.


     Lima Kompetensi Sosial-Emosional

         Lima Kompetensi Sosial-Emosional (KSE) meliputi: 1) Kesadaran Diri; 2) Manajemen Diri; 3) Kesadaran Sosial; 4) Keterampilan Berelasi; dan 5) Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab.

    1. Kesadaran Diri

        Kesadaran diri merupakan kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: menggabungkan identitas pribadi dan identitas sosial, mengidentifikasi kekuatas/aset diri dan budaya, mengidentifikasi emosi-emosi dalam diri, menunjukkan integritas dan kejujuran, menghubungkan perasaan, pikiran, dan nilai-nilai, menguji dan mempertimbangkan prasangka dan bias, memupuk efikasi diri, memiliki pola pikir bertumbuh, serta mengembangkan minat dan menetapkan arah tujuan hidup.

    2. Manajemen Diri

        Manajemen diri merupakan kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: mengelola emosi diri, mengidentifikasi dan menggunakan strategi-strategi pengelolaan stres, menunjukkan disiplin dan motivai diri, merancang tujuan pribadi dan bersama, menggunakan keterampilan merancang dan mengorganisir, memperlihatkan keberanian untuk mengambil inisiatif, serta mendemonstrasikan kendali diri dan dalam kelompok.

    3. Kesadaran Sosial

        Kesadaran sosial merupakan kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: mempertimbangkan pandangan/pemikiran orang lain, mengakui kemampuan/kekuatan orang lain, mendemonstrasikan empati dan rasa welas kasih, menunjukkan kepedulian atas perasaan orang lain, memahami dan mengekspresikan rasa sukur, serta mengidentifikasi ragam norma sosial, termasuk norma-norma yang menunjukkan ketidakadilan.

    4. Keterampilan Berelasi

            Keterampilan Berelasi merupakan kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antarqa lain dapat: berkomunikasi dengan efektif, mengembangkan relasi/hubungan positif, mempraktikkan kerjasama tim dan pemecahan masalah secara kolaboratif, melawan tekanan sosial yang negatif, menunjukkan sikap kepemimpinan dalam kelompok, mencari dan menawarkan bantuan apabila membutuhkan, serta turut membela hak-hak orang lain.

    5. Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab

         Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab merupakan kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: menunjukkan rasa ingin tahu dan keterbukaan pikiran, mengidentifikasi/mengenal solusi dari masalah pribadi dan sosial, berlatih membuat keputusan masuk akal setelah menganalisis informasi, data, dan fakta, mengantisipasi dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya, menyadari bahwa keterampilan berpikir kritis sangat berguna baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, merefleksikan peran seseorang dalam memperkenalkan kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, keluarga, dan komunitas, serta mengevaluasi pengaruh dari seseorang, hubungan interpersonal, komunitas, dan kelembagaan.


     Kesadaran Penuh (Mindfulness) Sebagai Dasar Penguatan Lima KSE

            Kesadaran penuh dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja/sadar pada kondisi sekarang, yang dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan atau welas asih (Hawkins, 2017:15). Praktik kesadaran penuh (mindfulness) bukanlah solusi sebuah permasalahan, akan tetapi merupakan praktik yang membantu kita dalam menyikapi, memproses, dan merespon permasalahan yang kita hadapi untuk fokus pada situasi yang dihadapi sekarang, bukan pada kekhawatiran pada masa yang akan datang maupun penyesalan pada masa lalu.

            Salah satu cara untuk melatih kesadaran penuh (mindfulness) adalah teknik STOP. Stop (Berhenti sejenak), Take a Breath (Ambil Napas), Observe (Observasi/Amati), dan Proceed (Lanjutkan). Dengan teknik ini, syaraf parasimpatik menenangkan tubuh dengan memperlambat detak jantung, menurunkan tekanan darah, mempertajam kekuatan otak bagian atas (korteks prefontal) yang berhubungan dengan fokus, konsentrasi dan kesadaran, sehingga akan tercipta nuansa well-being.

    Implementasi Kompetensi Sosial-Emosional (KSE)

        Implementasi KSE di sekolah, dapat dilaksanakan melalui: 1) Pengajaran Eksplisit; 2) Integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik; 3) Penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah; 4) Penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah.

    Fakta Penting Pembelajaran Sosial-Emosional

        Dalam pelaksanaan pembelajaran sosial-emosional, kita akan menemukan fakta-fakta bahwa: 1) murid yang berkembang secara sosial dan emosional, pada saat yang sama mereka pun berkembang secarqaq akademik; 2) mengabaikan perkembangan sosial dan emosional dapat membawa efek buruk secara akademik; 3) pembelajaran sosial-emosional harus diimplementasikan secara sengaja.


    Apa kaitan pembelajaran sosial-emosional yang telah dipelajari dengan modul-modul sebelumnya?

        

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

        Melalui Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE), guru dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan di sekolah, sehingga tercipta kondisi nyaman, sehat, dan bahagia bagi murid. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yakni menuntun anak sesuai dengan kodr5at alam dan zamannya agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sehingga anak menemukan kemerdekaan dalam proses belajarnya.

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak

        Nilai-nilai yang harus dimiliki guru penggerak yaitu berpihak pada murid, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan mandiri agar dapat mewujudkan Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) melalui salah satu perannya, yaitu mewujudkan kepemimpinan murid. Melalui nilai dan perannya tersebut, guru dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan di sekolah, sehingga tercipta kondisi nyaman, sehat, dan bahagia bagi murid.

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Visi Guru Penggerak

        Melalui Pembelajran Sosial-Emosional (PSE) yang mengintegrasikan lima KSE, guru dapat mewujudkan visi yang diharapkan yaitu dapat mewujudkan insan pembelajar yang bertakwa, berprestasi, inovatif, berbudaya, dan berkarakter, sehingga terwujud Profil Pelajar Pancasila.

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Budaya Positif

        Melalui PSE yang mengintegrasikan lima Kompetensi Sosial Emosional (KSE), guru dapat mengenali dan memahami emosi masing-masing yang sedang dirasakan, sehingga mampu mengontrol diri dan dapat menerapkan disiplion positif secara baik sesuai dengan kesadaran diri (self-awarness).

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

        Melalui PSE, guru dapat melakukan pembelajaran dengan menggunakan beberapa teknik, antara lain: identifikasi perasaan, identifikasi emosi, menuliskan ucapan terima kasih, bermain peran, dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan agar guru mampu menerapkan pembelajarana berdiferensiasi di kelas sesuai dengan kebutuhan belajar murid, guan mewujudkan merdeka belajar.


    Guru Hebat Indonesia, demikianlah tadi Koneksi Antar Materi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial-Emosional. Sampai bertemu lagi di Koneksi Antar Materi Modul 2.3.

    Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Guru Hebat Indonesia Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

    Guru Bergerak, Indonesia Maju.



    Selasa, 15 November 2022

    Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

    Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

    Semangat Pagi.

    Salam dan Bahagia. 

    Salam Guru Penggerak.


    Selamat bertemu kembali dalam Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Fasilitator, Bapak Edy Susiadi Purnama serta Pengajar Praktik, Ibu Siti Sumiyati yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, serta motivasi kepada Saya dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6 ini. Nah, selanjutnya Saya akan mencoba membuat Koneksi Antar Materi modul 2.1 yang sudah dipelajari.


    Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas?

    Menurut Tomlinson (2001:45), Pembelajran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi pada kebutuhan murid.

    Langkah-langkah penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di kelas adalah:

    1.     Menentukan tujuan pembelajaran

    2.     Menganalisis kebutuhan belajar dengan melakukan asesmen diagnostik (kognitif dan non kognitif) berdasarkan 3 aspek (kesiapan, minat, dan profil belajar murid)

    3.     Menganalisis penerapan s strategi diferensiasi (konten, proses, dan produk)

    4.     Mengimplementasikan Rencana Pembelajaran Berdiferensiasi dalam konteks pembelajaran di kelas

    5.     Melakukan asesmen pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan murid

     

    Bagaimana Pembelajaran Berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal?

    Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid, guru dapat melakukan pemetaan kebutuhan murid berdasarkan 3 aspek, yaitu:

    1.     Kesiapan Belajar

    Guru perlu melihat kesiapan belajar murid untuk mengetahui kapasitas murid dalam mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru.

    2.     Minat Belajar

    Guru memberikan pilihan kepada muridnya untuk belajar sesuai dengan minatnya. Belajar sesuai minat dapat meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

    3.     Profil Belajar

    Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secarqa alami dan efisien bergantung dari gaya belajarnya, kecerdasan, pengaruh budaya, dan lingkungannya.

    Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat membantu murid mencapai hasil belajar yang optimal, guru dapat menerapkan 3 strategi secara tepat, yaitu:

    1.     Diferensiasi Konten

    Guru perlu menyesuaikan materi/konten pembelajaran dengan kebutuhan belajar murid yang beragam, berdasarkan pemetaan kebutuhan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid.

    2.     Diferensiasi Proses

    Guru perlu memvariasikan proses belajar agar beragam, sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Proses ini mengacu pada bagaimana murid memahami atau memaknai apa yang dipelajari.

    3.     Diferensiasi Produk

                Guru perlu memodifikasi tagihan produk yang akan dihasilkan murid sesuai dengan konten yang telah mereka pelajari dan proses yang telah mereka lewati.

     

    Bagaimana Koneksi Antar Materi Pembelajaran Berdiferensiasi dengan modul lain di Pendidikan Guru Penggerak yang pernah dipelajari?


        Menurut bagan koneksi antar materi tersebut, dapat dilihat bahwa pembelajaran berdiferensiasi sangat erat kaitannya dengan pembelajaran yang berpihak pada murid, sesuai dengan filosofi KHD. Sedangkan nilai-nilai guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid merupakan komponen-komponen utama dalam mewujudkan Pembelajaran Berdiferensiasi. Murid sebagai manusia pembelajar yang beragam harus terlayani dengan baik melalui visi guru penggerak. Pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan oleh guru mampu membangun budaya positif di sekolah.

    1. 1.   Keterkaitan antara modul 1.1 Filosofi KHD dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

              Menurut KHD, pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. tugas guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia.

            Kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi, sebagai guru kita harus dapat memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi yang dapat mengakomodir keberagaman siswa melalui pemetaan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid, sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

    2.              Keterkaitan antara modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

            Nilai guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid. Maka, dalam proses menuntun murid guru harus selalu berpikir, "Apa yang murid butuhkan? Apa yang dapat Saya lakukan agar proses belajar menjadi lebih baik?" Sedangkan salah satu peran guru penggerak adalah mewujudkan kepemimpinan murid. Dalam hal ini, guru membantu murid dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter baik murid di sekolah.

            Kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi, guru dapat memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi yang dapat mengakomodir keberagaman murid melalui pemetaan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

    3.       Keterkaitan antara modul 1.3 Visi Guru Penggerak dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

            Untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang mengakomodir kebutuhan belajar murid, guru dapat melakukan prakarsa perubahan melalui Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJAnya, yaitu:

    ü  Buat pertanyaan terkait pemetaan keburuhan belajar murid

    ü  Ambil pelajaran apa yang sudah pernah dilakukan

    ü  Gali mimpi tentang kondisi ideal yang akan terjadi dalam proses pembelajaran

    ü  Jabarkan 3 strategi diferensiasi

    ü  Atur eksekusi dengan melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

    4.       Keterkaitan antara modul 1.4 Budaya Positif dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

                Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di sekolah akan membentuk Budaya Positif dengan posisi kontrol guru sebagai manajer. Guru membantu membuat murid merasa dihargai dan memiliki keterkaitan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya sehingga murid merasa dirinya bagian dari kelasnya.


        Nah, teman-teman guru hebat Indonesia, demikianlah Koneksi Antar Materi modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi yang dapat Saya sampaikan. Semoga materi ini memberikan manfaat untuk kita semua, guru-guru hebat yang siap melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid.

     Guru hebat Indonesia Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

    Guru Bergerak, Indonesia Maju.