Halaman

Kamis, 16 Februari 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Salam dan Bahagia.


Selamat berjumpa kembali, Bapak/Ibu Guru Hebat. Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini Saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi modul 3.2 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Susiadi Purnama selaku fasilitator, serta Ibu Siti Sumiyati selaku pengajar praktik yang senantiasa dengan sabar membimbing Saya dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6.

Tujuan Pembelajaran Khusus

Tujuan pembelajaran khusus dari Koneksi Antar Materi Modul 3.1 ini adalah:

  1. CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
  2. CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Pendahuluan

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Dari kutipan tersebut, dapat dikaitkan dengan materi pada modul 3.1 ini tentang pengambilan keputusan, yaitu permasalahan dilema etika, di mana kita sebagai seorang guru seringkali dihadapkan pada dilema pengambilan keputusan dalam kegiatan pembelajaran, misalnya apakah kita mengutamakan ketercapaian/target materi, atau nilai dari sebuah pendidikan karakter.

Nilai-nilai dalam suatu pengambilan keputusan yang saya anut yaitu bahwa pengambilan keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan serta berpihak pada murid. Hal tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk lingkungan sekolah, yaitu terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, serta kondusif untuk menciptakan keberpihakan pada murid.

Sebagai pemimpin pembelajaran, maka kita harus dapat menuntun murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga murid akan mendapatkan kebahagiaan melalui merdeka belajar. Pengambilan keputusan dalam pembelajaran harus mengutamakan kebutuhan belajar murid, yang dapat dilaksanakan melalui pembelajaran berdiferensiasi.

Kutipan dari Bob Talbert di atas merupakan sebuah dilema etika, seperti yang dipelajari pada modul 3.1 ini. Menurut kutipan di atas, kita dihadapkan pada dua pilihan yang sebenarnya sama-sama benar, yaitu mengajarkan berhitung, atau pendidikan karakter. Berdasarkan yang dipelajari pada modul 3.1 ini, kita dapat mengambil keputusan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan dilema etika, kita harus memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab, dan berpihak pada murid.


Koneksi Antar Materi Modul 3.1 dengan Modul 1 dan 2

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Apabila seorang pemimpin dihadapkan peda sebuah kasus dilema etika, untuk pengambilan keputusannya setidaknya harus berpedoman pada filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yang disampaikan, yaitu:

  • Ing Ngarso Sung Tuladha: menjadi teladan, memimpin, contoh kebajikan, patut ditiru atau baik untuk dicontoh oleh orang lain.
  • Ing Madya Manun Karsa : memberdayakan, menyemangati, membuat orang lain memiliki kekuatan, kemampuan, tenaga, akal, cara dan sebagainya demi memperbaiki kualitas diri mereka.
  • Tut Wuri Handayani: mempengaruhi, memelihara, dan memprovokasi kebajikan serta kualitas positif agar orang lain bertumbuh maju.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Salah satu nilai kebajikan yang menjadi barometer dari nilai-nilai kebajikan yang lain yaitu Tanggung Jawab. Sebuah keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan. Melalui sikap tanggungjawab dari dalam diri, sebuah keputusan yang kita ambil akan mencerminkan bagaimana prinsip diri kita berdasarkan ketiga prinsip pengambilan keputusan, sehingga akan mendorong terwujudnya wellbeing dalam ekosistem pendidikan.


Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam proses pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada sebelumnya.

Salah satu tujuan kegiatan coaching yaitu menggali lebih dalam lagi potensi yang dimiliki oleh seorang guru. Melalui proses coaching antara coach dengan coachee akan terjadi penyelesaian masalah dalam hal ini adalah pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Melalui kegiatan coaching, pengambilan keputusan akan lebih efektif karena keputusan yang diambil berasal dari potensi yang dimiliki seseorang. Dengan demikian, keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan, yang pada akhirnya akan mendorong terwujudnya well being dalam ekosistem sekolah.


Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnyaa masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan sauatu keputusan khususnya yang berkaitan dengan dilema etika. Guru yang memiliki kesadaran diri yang baik pasti menunjukkan integritas dan kejujuran dalam pengambilan keputusan. Selain itu, juga memiliki kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan. Dengan begitu guru akan memiliki kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang , budaya, dan konteks yang berbeda-beda. Kemampuan guru untuk mengambil pilihan-pilihan membangun berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Dengan memiliki semua kemampuan tersebut, pada akhirnya keputusan yang diambil atas kasus dilema etika dapat dipertanggungjawabkan.


Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika, nilai-nilai yang dianut sebagai seorang pendidik yaitu kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut, maka sebuah keputusan yang diambil diharapkan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan prinsip berpusat pada murid serta mendorong terwujudnya iklim pendidikan yang baik di sekolah.


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Dengan menjalankan prinsip among KHD dan pola pikir inquiry apresiatif diharapkan guru mampu menjalankan peran-perannya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran, artinya juga menjadi pemimpin yang menaruh perhatian penuh pada komponen pembelajaran sesuai kurikulum (baik intra kurikuler maupun ekstrakurikuler), proses belajar mengajar, refleksi dan penilaian otentik dan efektif, pengembangan guru, dan sebagainya. Guru berperan besar dalam membuat lingkungan yang aman, nyaman, menyenangkan, akan tetapi juga menantang murid untuk belajar. Guru diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada kepentingan tumbuh kembangnya murid agar mampu berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.


Apakah tantangan-tantangan di lingkungan anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan anda?

Tantangan-tantangan dalam menjalankan pengambilan keputusan di antaranya adalah adanya pemikiran dari setiap individu atau kelompok yang bertentangan. Dalam lingkungan sekolah, tentu saja selain pihak yang pro, juga ada pihak yang kontra dengan keputusan yang diambil atau kebijakan yang sedang dijalankan. Kadang, kita harus memilih antara beradaptasi dengan lingkungan yang menikmati zona nyamannya, atau teguh pada prinsip kita untuk terus meningkatkan kualitas diri.


Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutudskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbed-beda?

Keputusan yang kita ambil tentu saja berpengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid, misalnya dalam pemilihan strategi maupun model pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid. Kita dapat membuat keputusan mengenai pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda dengan cara kita kenali, kemudian kita petakan terlebih dahulu mengenai kesiapan, minat, dan profil belajar murid.  Setelah itu, dapat kita susun rencana untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi dengan melakukan diferensiasi konten, proses, maupun produk.


Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran seharusnya dapat mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Pengambilan keputusan yang bijaksana memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab, dan berpihak pada murid untuk memastikan bahwa kehidupan atau masa depan murid adalah yang terbaik dan sesuai dengan harapannya.


Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Berdasarkan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya dan pembelajaran yang ada pada modul 3.1 ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan keputusan kita haruslah mendasar pada 3 unsur, yaitu nilai-nilai kebajikan universal, bertanggungjawab terhadap segala konsekuensi, serta berpihak pada murid. Pengambilan kepurusan sebagai seorang pemimpin setidaknya harus berpedoman pada filosofi KHD dengan Pratap Trilokanya, berlandaskan nilai dan oeran guru penggerak, berpedoman pada keberpihakan pada murid melalui pembelajaran berduferensiasi serta pengembangan kompetensi sosial emosional, serta keterampilan coaching yang baik dalam menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan.


Sejauh mana pemahaman anda tentang konsep-konsep yang telah anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut anda di luar dugaan?

Pemahaman saya terhadap materi tentang konsep-konsep yang telah dipelajari di modul ini:
  • Sebuah kasus pengambilan keputusan dikatakan sebagai dilema etika apabila ada dua hal yang sama-sama benar atau mengandung nilai kebajikan saling bertentangan (benar lawan benar), sedangkan dikatakan bujukan moral apabila ada hal yang salah melawan hal yang benar (benar lawan salah).
  • 3 Prinsip pengambilan keputusan: 1) End Based-Thinking (pengambilan keputusan bebrbasis hasil akhir), 2) Rule Based-Thinking (pengambilan keputusan berbasis peraturan), dan 3) Care Based-Thinking (pengambilan keputusan berbasis rasa peduli).
  • 4 Paradigma pengambilan keputusan: 1) Individual vs community (individu lawan kelompok), 2) Justice vs mercy (rasa keadilan lawan rasa kasihan), 3) Truth vs loyalty (kebenaran lawan kesetiaan), 4) Short term vs long term (jangka pendek lawan jangka panjang).
  • 9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan: 1) mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, 2) menentukan siapa yang terliobat, 3) mengumpulkan fakta, 4) melakukan pengujian benar-salah, 5) pengujian benar-benar, 6) melakukan prinsip resolusi, 7) investigsi opsi trilema, 8) buat keputusan, 9) lihat dan refleksikan kembali.
  • Hal-hal yang tidak terduga: 1) apabila dilakukan pengujian benar-salah pada sebuah kasus dan gagal pada uji legal, maka langkah pengambilan keputusan tidak perlu dilanjutkan karena sudah ada pelanggaran hukum, yang artinya kasus tersebut bukan dilema etika melainkan bujukan moral yang merupakan benar lawan salah; 2) ternyata tidak selamanya care based-thinking itu baik untuk diterapkan.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang anda pelajari di modul ini?

Saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema. Saat itu dilema etika yang saya alami berdasarkan paradigma individu lawan kelompok. Saat itu saya hanya mengandalkan keputusan berbasis hasil akhir yang sekiranya tidak merugikan kedua pihak. Setelah saya mempelajari modul ini, ternyata sebuah kasus dilema etika perlu diselesaikan dengan 9 langkah oengambilan dan pengujian keputusan, berdasarkan 3 prinsip dan 4 paradigma.


Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat anda, perubahan apa yang terjadi pada cara anda mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin harus berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan, tanggung jawab, serta berpihak pada murid. Pengambilan keputusan dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, berdasarkan 3 prinsip dan 4 paradigma.


Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi anda sebagai seorang individu dan anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting mempelajari modul ini sebagai individu maupun pemimpin, di mana untuk mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan harus melalui beberapa langkah dan pertimbangan, sehingga tidak ada pihak yag dirugikan dari keputusan yang diambil. Dengan mempelajari modul ini, diharapkan pada kasus selanjutnya, keputusan yang diambil adalah langkah paling bijaksana dan terbaik.


Demikianlah koneksi antar materi modul 3.1 tentang Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi pada modul-modul sebelumnya. Semoga KAM ini bermanfaat bagi guru-guru hebat, untuk senantiasa memberikann pelayanan yang terbaik dan berpihak pada murid.

Salam Guru Penggerak.
Guru Bergerak, Indonesia Maju.
Salam.

Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.



    Kamis, 15 Desember 2022

    Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

     

    Assalamulaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Salam dan Bahagia.

     Selamat berjumpa Kembali, Bapak Ibu Guru Hebat. Pada kesempatan ini, saya Sumiyati CGP Angkatan 6 dari DIY akan menyampaikan Koneksi Antar Materi Modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Pengajar Praktik, Ibu Siti Sumiyati, beserta Bapak Fasilitator Bapak Edy Susiadi Purnama yang telah mendampingi serta membimbing selama Program Guru Penggerak ini.

     

    Refleksi Modul 3.2 Coaching untuk Supervisi Akademik

    Coaching merupakan sebuah proses kolaborqasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, di mana coach nmemfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

    Paradigma Berpikir Coaching

    1.       1. Fokus pada coachee yang akan dikembangkan

    2.       2. Bersikap terbuka dan ingin tahu

    3.       3. Memiliki kesadarqan diri yang kuat

    4.       4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

    Prinsip Coaching

    1.       Kemitraan

    Dalam coaching, posisi coach terhadap coacheenya adalah mitra. Hal itu berarti setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.

    2.       Proses Kreatif

    Proses kreatif ini dilakukan melalui percakapan dua arah, memicu prose3s berpikir coachee, memetakan dan menggali situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru.

    3.       Memaksimalkan Potensi

    Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan.


    Coaching dalam Konteks Pendidikan

    Filosofi KHD

    Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.

    Sistem Among

    Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid.

    Kompetensi Inti Coaching

    1.       Kehadiran Penuh

    Kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching.

    2.       Mendengarkan Aktif

    Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara. Fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara.

    3.       Mengajukan Pertanyaan Berbobot

    Pertanyaan yang diajukan dapat menggugah orang untuk berpikir, menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal baru, mengungkapkan emosi.

    Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggungjawab)

    1.       Tujuan

    Coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini.

    2.       Identifikasi

    Proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee.

    3.       Rencana Aksi

    Coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

    4.       Tanggungjawab

    Komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya


    Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

    Supervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada murid. Beberapa prinsip supervise akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi: kemitraan, konstruktif, terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan, dan komprehensif. Siklus dalam supervise klinis pada umumnya meliputi tiga tahap, yakni: Pra Observasi, Observasi dan Pasca Observasi.

     

    Koneksi Antar Materi

    Keterkaitan dengan Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

    Dalam pembelajran berdiferensiasi diadakan pemetaan dengan 3 cara: minat murid, kebutuhan belajar murid, dan profil belajar murid. Pemetaan ini digunakan seorang coach sebagai data dalam proses coaching, sehingga coachee dalam hal ini murid mampu mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya untuk menemukan solusi terbaik.

    Keterkaitan dengan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

    Hal-hal yang harus dipahami dalam Kompetensi Sosial dan Emosional yaitu: Kesadaran Diri, Kesadaran Sosial, Pengelolaan Diri, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab. KSE digunakan oleh seorang guru dalam melakukan coaching terhadap coachee, agar terjadi pengendalian diri dan emosi untuk coach dan coachee serta menimbulkan rasa empati dan rasa sosialisasi serta dapat mengambil keputusan yang tepat dan bertanggungjawab.

    Peran sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya

    Di dalam kompetensi coaching dengan alur TIRTA, mewajibkan kita sebagai coach untuk dapat melakukan kehadiran penuh, salah satunya dengan kegiatan STOP dan mindfull listening yang telah dipelajari pada modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional. Salah satu prinsip coaching adalah memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat. Percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang diberdayakan atau coachee. Karena potensi coachee beragam, maka kompetensi sosial emosional diperlukan untuk memaksimalkan potensinya.

    Demikianlah koneksi antar materi modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik.

    Sampai bertemu pada materi selanjutnya.

    Salam Guru Penggerak.

    Guru Bergerak, Indonesia Maju.

    Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

    Senin, 28 November 2022

    Koneksi Antar Materi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional


     Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Semangat Pagi.

    Salam dan Bahagia.

    Salam Guru Penggerak.

    Pada kesempatan kali ini, Saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih Fasilitator Bapak Edy Susiadi Purnama dan Pengajar Praktik Ibu Siti Sumiyati yang telah membimbing Saya dengan sabar selama mengikuti Program Guru Penggerak ini.


    Refleksi Diri

    Bapak dan Ibu, Guru Hebat seluruh Indonesia, sebagai pendidik tentunya kita pernah mengalami perasaan emosi dalam diri kita seperti marah, kecewa, khawatir, sedih, atau bahkan stres karena tumpukan tugas yang begitu banyak. Nah, Bapak Ibu Guru Hebat, bagaimana cara kita mengontrol diri? Maka dalam modul 2.2 ini kita akan mempelajari Pembelajaran Sosial Emosional dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya.


    Apa kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional?


        Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap oositif mengenai aspek sosial dan emosional. Tujuan pembelajaran sosial dan emosional (PSE) adalah untuk memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

        Pencapaian Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) ditandai dengan adanya: 1) Peningkatan 5 kompetensi sosial-emosional, 2) Lingkungan belajar yang suportif, 3) Peningkatan sikap pada diri sendiri, respek dan toleran terhadap orang lain dan lingkungan sekolah. Meningkatnya tiga hal tersebut dapat mnegurangi perilaku negatif dan tingkat stres, serta dapat meningkatkan perilaku positif dan performa akademik siswa.

        Sebelum membahas lebih lanjut tentang lima KSE, kita akan terlebih dahulu membahas tentang well being. Well Being adalah sebuah kondisi di mana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik. Memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.


     Lima Kompetensi Sosial-Emosional

         Lima Kompetensi Sosial-Emosional (KSE) meliputi: 1) Kesadaran Diri; 2) Manajemen Diri; 3) Kesadaran Sosial; 4) Keterampilan Berelasi; dan 5) Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab.

    1. Kesadaran Diri

        Kesadaran diri merupakan kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: menggabungkan identitas pribadi dan identitas sosial, mengidentifikasi kekuatas/aset diri dan budaya, mengidentifikasi emosi-emosi dalam diri, menunjukkan integritas dan kejujuran, menghubungkan perasaan, pikiran, dan nilai-nilai, menguji dan mempertimbangkan prasangka dan bias, memupuk efikasi diri, memiliki pola pikir bertumbuh, serta mengembangkan minat dan menetapkan arah tujuan hidup.

    2. Manajemen Diri

        Manajemen diri merupakan kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: mengelola emosi diri, mengidentifikasi dan menggunakan strategi-strategi pengelolaan stres, menunjukkan disiplin dan motivai diri, merancang tujuan pribadi dan bersama, menggunakan keterampilan merancang dan mengorganisir, memperlihatkan keberanian untuk mengambil inisiatif, serta mendemonstrasikan kendali diri dan dalam kelompok.

    3. Kesadaran Sosial

        Kesadaran sosial merupakan kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: mempertimbangkan pandangan/pemikiran orang lain, mengakui kemampuan/kekuatan orang lain, mendemonstrasikan empati dan rasa welas kasih, menunjukkan kepedulian atas perasaan orang lain, memahami dan mengekspresikan rasa sukur, serta mengidentifikasi ragam norma sosial, termasuk norma-norma yang menunjukkan ketidakadilan.

    4. Keterampilan Berelasi

            Keterampilan Berelasi merupakan kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antarqa lain dapat: berkomunikasi dengan efektif, mengembangkan relasi/hubungan positif, mempraktikkan kerjasama tim dan pemecahan masalah secara kolaboratif, melawan tekanan sosial yang negatif, menunjukkan sikap kepemimpinan dalam kelompok, mencari dan menawarkan bantuan apabila membutuhkan, serta turut membela hak-hak orang lain.

    5. Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab

         Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab merupakan kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Seseorang yang memiliki kompetensi ini, antara lain dapat: menunjukkan rasa ingin tahu dan keterbukaan pikiran, mengidentifikasi/mengenal solusi dari masalah pribadi dan sosial, berlatih membuat keputusan masuk akal setelah menganalisis informasi, data, dan fakta, mengantisipasi dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya, menyadari bahwa keterampilan berpikir kritis sangat berguna baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, merefleksikan peran seseorang dalam memperkenalkan kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, keluarga, dan komunitas, serta mengevaluasi pengaruh dari seseorang, hubungan interpersonal, komunitas, dan kelembagaan.


     Kesadaran Penuh (Mindfulness) Sebagai Dasar Penguatan Lima KSE

            Kesadaran penuh dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja/sadar pada kondisi sekarang, yang dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan atau welas asih (Hawkins, 2017:15). Praktik kesadaran penuh (mindfulness) bukanlah solusi sebuah permasalahan, akan tetapi merupakan praktik yang membantu kita dalam menyikapi, memproses, dan merespon permasalahan yang kita hadapi untuk fokus pada situasi yang dihadapi sekarang, bukan pada kekhawatiran pada masa yang akan datang maupun penyesalan pada masa lalu.

            Salah satu cara untuk melatih kesadaran penuh (mindfulness) adalah teknik STOP. Stop (Berhenti sejenak), Take a Breath (Ambil Napas), Observe (Observasi/Amati), dan Proceed (Lanjutkan). Dengan teknik ini, syaraf parasimpatik menenangkan tubuh dengan memperlambat detak jantung, menurunkan tekanan darah, mempertajam kekuatan otak bagian atas (korteks prefontal) yang berhubungan dengan fokus, konsentrasi dan kesadaran, sehingga akan tercipta nuansa well-being.

    Implementasi Kompetensi Sosial-Emosional (KSE)

        Implementasi KSE di sekolah, dapat dilaksanakan melalui: 1) Pengajaran Eksplisit; 2) Integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik; 3) Penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah; 4) Penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah.

    Fakta Penting Pembelajaran Sosial-Emosional

        Dalam pelaksanaan pembelajaran sosial-emosional, kita akan menemukan fakta-fakta bahwa: 1) murid yang berkembang secara sosial dan emosional, pada saat yang sama mereka pun berkembang secarqaq akademik; 2) mengabaikan perkembangan sosial dan emosional dapat membawa efek buruk secara akademik; 3) pembelajaran sosial-emosional harus diimplementasikan secara sengaja.


    Apa kaitan pembelajaran sosial-emosional yang telah dipelajari dengan modul-modul sebelumnya?

        

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

        Melalui Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE), guru dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan di sekolah, sehingga tercipta kondisi nyaman, sehat, dan bahagia bagi murid. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yakni menuntun anak sesuai dengan kodr5at alam dan zamannya agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sehingga anak menemukan kemerdekaan dalam proses belajarnya.

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak

        Nilai-nilai yang harus dimiliki guru penggerak yaitu berpihak pada murid, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan mandiri agar dapat mewujudkan Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) melalui salah satu perannya, yaitu mewujudkan kepemimpinan murid. Melalui nilai dan perannya tersebut, guru dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan di sekolah, sehingga tercipta kondisi nyaman, sehat, dan bahagia bagi murid.

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Visi Guru Penggerak

        Melalui Pembelajran Sosial-Emosional (PSE) yang mengintegrasikan lima KSE, guru dapat mewujudkan visi yang diharapkan yaitu dapat mewujudkan insan pembelajar yang bertakwa, berprestasi, inovatif, berbudaya, dan berkarakter, sehingga terwujud Profil Pelajar Pancasila.

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Budaya Positif

        Melalui PSE yang mengintegrasikan lima Kompetensi Sosial Emosional (KSE), guru dapat mengenali dan memahami emosi masing-masing yang sedang dirasakan, sehingga mampu mengontrol diri dan dapat menerapkan disiplion positif secara baik sesuai dengan kesadaran diri (self-awarness).

    Kaitan Pembelajaran Sosial-Emosional dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

        Melalui PSE, guru dapat melakukan pembelajaran dengan menggunakan beberapa teknik, antara lain: identifikasi perasaan, identifikasi emosi, menuliskan ucapan terima kasih, bermain peran, dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan agar guru mampu menerapkan pembelajarana berdiferensiasi di kelas sesuai dengan kebutuhan belajar murid, guan mewujudkan merdeka belajar.


    Guru Hebat Indonesia, demikianlah tadi Koneksi Antar Materi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial-Emosional. Sampai bertemu lagi di Koneksi Antar Materi Modul 2.3.

    Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Guru Hebat Indonesia Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

    Guru Bergerak, Indonesia Maju.



    Selasa, 15 November 2022

    Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

    Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

    Semangat Pagi.

    Salam dan Bahagia. 

    Salam Guru Penggerak.


    Selamat bertemu kembali dalam Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Fasilitator, Bapak Edy Susiadi Purnama serta Pengajar Praktik, Ibu Siti Sumiyati yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, serta motivasi kepada Saya dalam mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 6 ini. Nah, selanjutnya Saya akan mencoba membuat Koneksi Antar Materi modul 2.1 yang sudah dipelajari.


    Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas?

    Menurut Tomlinson (2001:45), Pembelajran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi pada kebutuhan murid.

    Langkah-langkah penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di kelas adalah:

    1.     Menentukan tujuan pembelajaran

    2.     Menganalisis kebutuhan belajar dengan melakukan asesmen diagnostik (kognitif dan non kognitif) berdasarkan 3 aspek (kesiapan, minat, dan profil belajar murid)

    3.     Menganalisis penerapan s strategi diferensiasi (konten, proses, dan produk)

    4.     Mengimplementasikan Rencana Pembelajaran Berdiferensiasi dalam konteks pembelajaran di kelas

    5.     Melakukan asesmen pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan murid

     

    Bagaimana Pembelajaran Berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal?

    Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid, guru dapat melakukan pemetaan kebutuhan murid berdasarkan 3 aspek, yaitu:

    1.     Kesiapan Belajar

    Guru perlu melihat kesiapan belajar murid untuk mengetahui kapasitas murid dalam mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru.

    2.     Minat Belajar

    Guru memberikan pilihan kepada muridnya untuk belajar sesuai dengan minatnya. Belajar sesuai minat dapat meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

    3.     Profil Belajar

    Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secarqa alami dan efisien bergantung dari gaya belajarnya, kecerdasan, pengaruh budaya, dan lingkungannya.

    Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat membantu murid mencapai hasil belajar yang optimal, guru dapat menerapkan 3 strategi secara tepat, yaitu:

    1.     Diferensiasi Konten

    Guru perlu menyesuaikan materi/konten pembelajaran dengan kebutuhan belajar murid yang beragam, berdasarkan pemetaan kebutuhan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid.

    2.     Diferensiasi Proses

    Guru perlu memvariasikan proses belajar agar beragam, sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Proses ini mengacu pada bagaimana murid memahami atau memaknai apa yang dipelajari.

    3.     Diferensiasi Produk

                Guru perlu memodifikasi tagihan produk yang akan dihasilkan murid sesuai dengan konten yang telah mereka pelajari dan proses yang telah mereka lewati.

     

    Bagaimana Koneksi Antar Materi Pembelajaran Berdiferensiasi dengan modul lain di Pendidikan Guru Penggerak yang pernah dipelajari?


        Menurut bagan koneksi antar materi tersebut, dapat dilihat bahwa pembelajaran berdiferensiasi sangat erat kaitannya dengan pembelajaran yang berpihak pada murid, sesuai dengan filosofi KHD. Sedangkan nilai-nilai guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid merupakan komponen-komponen utama dalam mewujudkan Pembelajaran Berdiferensiasi. Murid sebagai manusia pembelajar yang beragam harus terlayani dengan baik melalui visi guru penggerak. Pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan oleh guru mampu membangun budaya positif di sekolah.

    1. 1.   Keterkaitan antara modul 1.1 Filosofi KHD dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

              Menurut KHD, pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. tugas guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia.

            Kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi, sebagai guru kita harus dapat memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi yang dapat mengakomodir keberagaman siswa melalui pemetaan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid, sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

    2.              Keterkaitan antara modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

            Nilai guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid. Maka, dalam proses menuntun murid guru harus selalu berpikir, "Apa yang murid butuhkan? Apa yang dapat Saya lakukan agar proses belajar menjadi lebih baik?" Sedangkan salah satu peran guru penggerak adalah mewujudkan kepemimpinan murid. Dalam hal ini, guru membantu murid dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter baik murid di sekolah.

            Kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi, guru dapat memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi yang dapat mengakomodir keberagaman murid melalui pemetaan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

    3.       Keterkaitan antara modul 1.3 Visi Guru Penggerak dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

            Untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang mengakomodir kebutuhan belajar murid, guru dapat melakukan prakarsa perubahan melalui Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJAnya, yaitu:

    ü  Buat pertanyaan terkait pemetaan keburuhan belajar murid

    ü  Ambil pelajaran apa yang sudah pernah dilakukan

    ü  Gali mimpi tentang kondisi ideal yang akan terjadi dalam proses pembelajaran

    ü  Jabarkan 3 strategi diferensiasi

    ü  Atur eksekusi dengan melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

    4.       Keterkaitan antara modul 1.4 Budaya Positif dengan 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

                Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di sekolah akan membentuk Budaya Positif dengan posisi kontrol guru sebagai manajer. Guru membantu membuat murid merasa dihargai dan memiliki keterkaitan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya sehingga murid merasa dirinya bagian dari kelasnya.


        Nah, teman-teman guru hebat Indonesia, demikianlah Koneksi Antar Materi modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi yang dapat Saya sampaikan. Semoga materi ini memberikan manfaat untuk kita semua, guru-guru hebat yang siap melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid.

     Guru hebat Indonesia Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

    Guru Bergerak, Indonesia Maju.


    Kamis, 27 Oktober 2022

    Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif

     Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

        Salam dan Bahagia.

        Perkenalkan, Saya Sumiyati CGP Angkatan 6 DIY dari SD Negeri Srepeng Semanu Gunungkidul.

        Pada kesempatan kali ini, Saya akan menyampaikan Koneksi Antar Materi Modul 1.4 tentang Budaya Positif.

        Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Fasilitator dan Pengajar Praktik, Bapak Edy Susiadi Purnama dan Ibu Siti Sumiyati yang selalu setia mendampingi Saya dalam melaksanakan kegiatan Program Guru Penggerak ini. Terima kasih juga Saya ucapkan kepada keluarga, anak dan suami, rekan sejawat di sekolah yang senantiasa memberikan dukungan dan motivasi dalam Saya melaksanakan kegiatan ini. 

        Koneksi Antar Materi modul 1.4 ini akan Saya sampaikan keterkaitan antar materi mulai dari modul 1.1 tentang Filosofis Pemikiran Ki Hajar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak, dan modul 1.4 tentang Budaya Positif. Tujuan akhir dari modul 1 ini adalah terwujudnya murid yang memiliki profil pelajar pancasila.

        Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah menuntun. Menuntun segala kekuata kodrat yang ada pada anak (alam dan zaman) agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Ki Hajar Dewantara juga menyampaikan bahwa pendidikan harus menghamba pada murid. Pendidikan haruslah berpihak pada murid, sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan anak. Seorang pendidik atau guru, menurut Ki Hajar diibaratkan sebagai seorang petani, sedangkan sekolah ibarat lahan atau taman. Di lahan atau taman tersebut kita semai benih-benih yang berbeda karakteristiknya, dalam hal ini adalah murid. Sebagai seorang petani hanya bisa menuntun tumbuhnya benih dengan merawatnya. Begitulah kita menuntun murid, diibaratkan seperti seorang petani.

       Berdasarkan pernyataan Ki Hajar Dewantara tersebut, maka seorang guru harus mempunyai nilai dan menjalankan perannya agar mampu menuntun tumbuh kembangnya murid melalui pengajaran yang berpusat pada murid. Nilai-nilai yang harus dimiliki seorang guru penggerak adalah mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid. Sedangkan peran yang harus dijalankan seorang guru penggerak adalah menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, serta menggerakkan komunitas.

        Dalam mewujudkan suatu perubahan, kita memerlukan visi dan langkah-langkah yang tepat untuk mencapainya. Visi dapat terwujud jika terdapat kerjasama dengan semua warga sekolah. Oleh karena itu, dalam mewujudkan visi diperlukan langkah konkrit menggunakan metode Inquiry Apresiatif dengan tahapan BAGJA. Tahapan BAGJA yaitu Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, dan Atur Eksekusi.

        Berdasarkan penerapan tahapan BAGJA tersebut, akan muncul pembiasaan-pembiasaan positif di sekolah yang kita kenal dengan BUDAYA POSITIF. Budaya Positif ini akan menimbulkan rasa aman dan nyaman pada murid dalam proses pembelajaran. Budaya positif juga dapat mendorong murid untuk mampu berpikir, bertindak, dan mencipta sebagai proses memerdekakan dirinya sehingga murid lebih mandiri dan bertanggungjawab.

        Paparan di atas adalah keterkaitan antara materi modul 1.1, 1.2, 1.3, dan 1.4. Selanjutnya akan Saya sampaikan reflkesi pemahaman atas keseluruhan materi modul 1.4 tentang Budaya Positif.


    Pertanyaan Refleksi

    Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu:disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi.

    1. Disiplin Positif

        Disiplin positif merupakan pendekatan mendidik anak untuk melakukan kontrol diri dan pembentukan kepercayaan diri.

    2. Nilai Kebajikan dan Keyakinan Kelas

       Tujuan mulia di sini mengacu pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip mulia yang dianut seseorang.

    3. Posisi Kontrol

        Ada lima posisi kontrol, yaitu pemberi hukuman, pembuat rasa merasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. Posisi kontrol yang paling baik diterpakan untuk mewujudkan budaya positif adalah posisi kontrol manajer.

    4. Kebutuhan Dasar

        Ada lima kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebutuhan akan penguasaan (power), kebutuhan akan kebebasan (freedom), dan kebutuhan akan kesenangan (fun). 

    5. Segitiga Restitusi

        Segitiga restitusi merupakan cara untuk menerapkan budaya positif melalui 3 tahap, yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan.


    Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

        Setelah mempelajari modul 1.4 ini, saya berpikir bahwa untuk menciptakan budaya positif di kelas maupun di sekolah harus melibatkan murid dalam perencanaan hingga pelaksanaannya. Hal tersebut dilakukan dengan harapan untuk mewujudkan kelas atau sekolah yang nyaman, aman, positif berdasarkan keyakinan kelas atau sekolah yang diyakini bersama.

        Perubahan lainnya bahwa posisi kontrol yang Saya terapkan selama ini adalah posisi kontrol sebagai penghukum dan pembuat merasa bersalah. Hal tersebut ternyata kurang tepat untuk mewujudkan disiplin positif murid. Oleh karena itu, Saya harus mengubahnya menjadi posisi kontrol manajer dan menerapkan segitiga restitusi.

    Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

        Pengalaman yang pernah Saya alami dalam menerapkan konsep modul budaya positif, ketika Saya ingin menyelesaikan masalah pelanggaran disiplin murid dengan menggunakan posisi kontrol manajer dan menggunakan segitiga restitusi. Terkadang, sikap Saya tersebut berbenturan dengan kebiasaan di sekolah selama ini yang terbiasa menghukum murid untuk membentuk sikap disiplin. Oleh karena itu, Saya harus menggunakan pendekatan khusus untuk mensosialisasikan hal ini kepada rekan sejawat di sekolah.

    Bagaimana perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

      Perasaan Saya ketika mengalami hal tersebut adalah merasa lebih tertantang untuk mengimplementasikan posisi guru sebagai manajer dan menerapkan segitiga restitusi dalam menangani kasus pelanggaran disiplin murid. Karena dengan menempatkan diri sebagai manajer, guru akan memberikan kesempatan kepada murid untuk mempertanggungjawabkan perilaku dan mendukung murid menemukan solusi atas permasalahannya. Saya juga merasa tertantang untuk menyusun strategi untuk mensosialisasikan konsep budaya positif kepada rekan sejawat, agar kami dapat berkolaborasi melakukan perubahan budaya positif di kelas maupun sekolah.

    Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik?Adakah yang perlu diperbaiki?

        Menurut Saya, hal baik yang sudah ada di lingkungan kelas dan sekolah adalah Disiplin Positif, Nilai-nilai Kebajikan, serta Keyakinan Kelas yang dibangun bersama dengan Berpihak pada Murid. Adapun yang perlu diperbaiki adalah Posisi Kontrol seorang guru yang selama ini cenderung sebagai Penghukum dan Pembuat Merasa Bersalah, menuju posisi seorang Manajer.

    Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

        Sebelum mempelajari modul ini, posisi kontrol yang sering Saya gunakan ketika berinteraksi dengan murid adalah penghukum dan pembuat merasa bersalah. Perasaannya pada saat itu, Saya merasa benar karena telah berhasil mendisiplinkan murid, walupun dengan terpaksa dan memang hasilnya tidak bisa konsisten. Setelah mempelajari modul ini, Saya mencoba menggunakan posisi kontrol sebagai manajer. Saat Saya mampu melaksanakan posisi kontrol manajer dengan penerapan segitiga restitusi, Saya merasa bangga dengan murid Saya karena mereka lebih menunjukkan rasa tanggung jawabnya saat memperbaiki kesalahan.

    Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

    Sebelumnya, saya pernah secara tidak sadar menggunakan konsep segitiga restitusi, akan tetapi tahapan restitusinya tidak dilaksanakan secara menyeluruh. Tahapan yang pernah Saya laksanakan adalah menstabilkan identitas dan validasi tindakan yang salah. Untuk menanyakan keyakinan belum Saya laksanakan, karena sebelumnya Saya cenderung meminta murid memperbaiki kesalahannya dengan melakukan konsekuensi atau hukuman sesuai yaang disepakati atau kehendak Saya. Jadi bukan pendapat atau restitusi dari murid sendiri.

    Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

        Hal yang menurut Saya penting untuk menciptakan budaya positif adalah kolaborasi yang baik seluruh anggota komunitas sekolah maupun dengan pihak-pihak terkait serta sarana dan prasarana yang mendukung. Kolaborasi anggota komunitas sekolah dalam mewujudkan nilai-nilai kebajikan sangat dibutuhkan agar dapat membangun budaya positif sekolah. Sarana prasarana sekolah sangat menunjang untuk mewujudkan sekolah yang nyaman, aman, dan mendukung proses pembelajaran yang menyenangkan dan tentu saja berpihak pada murid.


    Demikian tadi keterkaitan antar materi modul 1.1 sampai dengan 1.4 beserta refleksi pemahaman materi modul 1.4 Budaya Positif secara menyeluruh.

    Guru hebat Indonesia Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

    Guru Bergerak, Indonesia Maju.

    Wassalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.


    Kamis, 17 September 2020

    Upaya Mempertahankan Kemerdekaan (IPS Tema 2 KD 3.4)

     Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.

    Apa kabar anak - anakku kelas 6 yang hebat?

    Semoga kalian selalu sehat dan terus semangat dalam belajar.

    Kali ini, kita akan belajar materi IPS tentang upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

    Simak baik  - baik materi berikut ini ya!

    Sebelumnya, siapkan alat tulis dan buku catatan untuk mencatat hal - hal penting dalam materi ini!


    Anak - anakku yang hebat, menurut kalian, Apakah setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia perjuangan bangsa Indonesia sudah selesai?

    Ternyata, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa Indonesia belum selesai. Hal itu disebabkan oleh tidak diakuinya kedaulatan dan kemerdekaan negara kita oleh Belanda. Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, bangsa Belanda masih saja datang untuk kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu. Bangsa Indonesia dengan segenap kekuatannya berusaha untuk melawan Sekutu dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

    Usaha mempertahankan kemerdekaan itu dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui medan pertempuran dan meja perundingan.

    Berikut ini adalah usaha mempertahankan kemerdekaan melalui medan pertempuran:

    1. Pertempuran Surabaya

                a.  Sebab Pertempuran
                    Tentara Sekutu (Inggris) pertama kali mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Pendaratan ini dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Dua hari kemudian tentara Inggris menyerbu penjara republik untuk membebaskan perwira-perwira Sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Alleid Prisoner of War and Internees). Tentara sekutu menguasai tempat-tempat penting seperti Kantor pos besar, gedung Bank Internatio, dan pangkalan udara Tanjung. Pertempuran di Surabaya meluas hampir keseluruh kota. Inggris menyerang dengan peralatan perang yang lengkap. Para pemuda berusaha mengepung dan menyerang gedung tersebut. Dalam insiden itu, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas. Tewasnya Brigjen AWS Mallaby inilah yang menyebabkan Sekutu marah dan mengeluarkan ultimatum pada tanggal 9 N0vember 1945. Isi ultimatum tersebut adalah "Rakyat Surabaya supaya menyerahkan senjata kepada Inggris selambat-lambatnya pukul 6.00, 10 November Apabila tidak dilaksanakan, Surabaya akan digempur baik dari darat, laut, maupun udara."

                b.  Waktu Pertempuran
    Pertempuran Surabaya berlangsung dari tanggal 27 Oktober 1945 - 20 November 1945. Namun puncak dari pertempuran ini terjadi pada tanggal 10 November.

                c.   Jalannya Pertempuran
    Ultimatum dari Sekutu ditolak oleh rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya bertekad untuk mempertahankan Kota Surabaya sampai titik darah penghabisan. Setelah batas ultimatum habis, Kota Surabaya mulai digempur oleh tentara Inggris. Kota Surabaya diserang dari darat, laut dan udara. Salah satu pemimpin arek-arek Surabaya, antara adalah Bung Tomo. Ia mengobarkan semangat bagi para pejuang Surabaya untuk menggempur musuh. Karena persenjataan yang tidak seimbang, banyak rakyat Surabaya yang gugur. Akhirnya mereka kalah. Kota Surabaya kemudian jatuh ke tangan Inggris. 

                d.   Daerah Pertempuran
    Pertempuran Surabaya ini terjadi di Kota Surabaya, diawali dengan pertempuran di depan Gedung Internatio pada tanggal 27 Oktober 1945, pertempuran di Jembatan Merah tanggal 30 Oktober yang menyebabkan tewasnya Brigjen Mallaby.

                e.  Tokoh Yang Terlibat dalam Pertempuran
    Tokoh yang terlibat dalam pertempurn ini dari Indonesia adalah Bung Tomo dan Gubernur Suryo. Bung Tomo mengobarkan semangat bagi rakyat Surabaya melalui radio. Semboyannya adalah "Merdeka atau Mati".
    Sedangkan tokoh dari Sekutu adalah Brigjend AWS Mallaby yang tewas pada tanggal 30 Oktober 1945.

                f.   Akhir Pertempuran
    Pertempuran 10 November 1945 menjadi pertempuran terbesar sepanjang perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Ribuan rakyat Indonesia tewas dalam pertempuran tersebut begitu pula dengan pihak Inggris. Pasukan yang didatangkan dari India juga menjadi korban dari pertempuran tersebut. Tercatat lebih dari 10.000 rakyat Indonesia dan juga pasukan Inggris tewas dalam pertempuran Surabaya. Setidaknya 6,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. [2]. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.
        2. Pertempuran Ambarawa

                a. Sebab Pertempuran
    Pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang.
    Kedatangan Sekutu ini diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, para tawanan tersebut justru dipersenjatai sehingga menimbulkan kemarahan pihak Indonesia. 

                b. Waktu Pertempuran
    Pertempuran Ambarawa ini terjadi pada tanggal 12 Desember 1945 - 15 Desember 1945.

                c. Jalannya Pertempuran
    Pada tanggal 26 Oktober 1945 di kota Magelang terjadi pertempuran antara pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pasukan gabungan Inggris dan NICA. Insiden tersebut terhenti setelah Soekarno dan Brigadir Bethell melakukan perundingan dan memperoleh kata sepakat. Namun, ternyata pihak Sekutu mengingkari janji. Pada tanggal 12 Desember 1945, pertempuran berkobar di Ambarawa.
    Kolonel Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi, sehingga musuh benar-benar terkurung.
                d. Daerah Pertempuran
    Daerah pertempurannya adalah di Ambarawa.

                e. Tokoh Yang Terlibat dalam Pertempuran
    Tokoh dari Indonesia yang terlibat dalam pertempuran ini adalah Letkol Isdiman yang gugur dalam medan pertempuran dan digantikan oleh Kolonel Sudirman.
    Sedangkan dari pihak Sekutu, tokohnya adalah Brigadir Bethel.

                f.  Akhir Pertempuran
    Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir. Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur.
    Kemenangan ini diperoleh berkat kerja sama dari seluruh rakyat di Ambarawa. Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya “Monumen Palagan Ambarawa” dan diperingati sebagai hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika atau Hari Infanteri.

          3.  Pertempuran Medan Area
                a. Sebab Pertempuran

    Pada tanggal 9 November 1945, pasukan Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Sumatera Utara yang dikuti oleh pasukan NICA (Nederlandsch Indiƫ Civil Administratie). Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly menyatakan pada pemerintah RI akan melaksanakan tugas kemanusiaan, mengevakuasi tawanan dari beberapa kamp di luar Kota Medan. Dengah dalih menjaga keamanan, para bekas tawanan diaktifkan kembali dan dipersenjatai.

    Latar belakang pertempuran Medan Area, diantaranya yaitu:

    • Bekas tawanan yang menjadi arogan dan sewenang-wenang.
    • Ulah seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak lencana merah putih.
    • Ultimatum agar pemuda Medan menyerahkan senjata kepada Sekutu.
    • Pemberian batas daerah Medan secara sepihak oleh Sekutu dengan memasang papan pembatas yang bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area (Batas Resmi Medan Area)” di sudut-sudut pinggiran Kota Medan.

                b. Waktu Pertempuran
    Puncak Pertempuran Medan Area ini adalah tanggal 10 Desember 1945 - 15 Februari 1947.

                c. Jalannya Pertempuran
    Pada tanggal 7, 8, dan 9 Desember 1945, siang dan malam hari di mana-mana asrama tentara India-Inggris/NICA diserang oleh pemuda dan TKR. Akibat serangan tersebut, pada tanggal 10 Desember 1945 tentara Inggris/NICA menyerang markas TKR di Deli Tua (Two Rivers). Tiga hari kemudian, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly kembali mengeluarkan Maklumat yang meminta agar Bangsa Indonesia harus menyerahkan senjatanya kepada tentara Sekutu dan barang siapa memegang senjata di dalam kota Medan dan 8,5 Km dari batas kota Medan dan Belawan akan ditembak mati.

                d. Daerah Pertempuran
    Pertempuran ini berlangsung di daerah Medan, Sumatera Utara.

                e. Tokoh Yang Terlibat dalam Pertempuran
    Tokoh dari Indonesia yang terlibat dalam pertempuran ini adalah : Ahmad Tahir dan Teuku Mohammad Hasan. Sedangkan dari NICA adalah Jendral TED. Kelly

                f.  Akhir Pertempuran
    Pertempuran Medan Area berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Setelah itu, Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis demarkasi yang definitif untuk Medan Area.
    Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkan suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulai pemasangan patok pada garis demarkasi itu.
    Namun kedua pihak, Indonesia dan Belanda, selalu bertikai mengenai garis demarkasi ini. Empat bulan setelah pertempuran ini berakhir, Belanda melaksanakan Operatie Product atau disebut Agresi Militer Belanda I.

    Nah, anak - anakku yang hebat, itu tadi informasi mengenai Pertempuran Surabaya, pertempuran Ambarawa dan Pertempuran Medan Area dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
    Sekarang, tugas kalian adalah melanjutkan mencari informasi tentang Peristiwa Bandung Lautan Api, Agresi Militer Belanda I, dan Agresi Militer Belanda II.
    Informasi yang dikumpulkan adalah mengenai sebab pertempuran, waktu, jalannya pertempuran, daerah pertempuran, tokoh yang terlibat dan akhir pertempuran.
    Tulis informasi tersebut dalam buku catatan kalian.

    Selamat belajar anak - anakku.
    Selamat membaca.
    Buku adalah gudang ilmu.
    Yuks,,temukan banyak ilmu di dalamnya.